Group's posts with tag: prosa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.

Gubah Tergugah Gurindam Duabelas (1)

Senja Di Pantai Tanjungpinang

Oleh : A.Kohar Ibrahim

WAKTU senja tiadalah terasa sebagai penyebab gundah gelisah apa pula kesedihan, meskipun sang mentari mulai beranjak ke dalam pelukan sang malam. Ah, suasana  yang aneh berbaur kewajaran, seperti manusia pula tatkala usia menjelang senja. Bukan hanya kepedih-sedihan melainkan juga kemungkinan merasakan benar sebenar-benarnya anugerah keindahan yang membahagiakan.

Kebahagiaan lantaran pertemuan langsung dengan kekasih yang pertamakali, juga  sang pengundang telah membawa daku berkunjung ke Tanjungpinang. Untuk berkelanjutan dengan simbahan cahya mentari pagi menyeberang ke Pulau Penyengat. Pulau legendaris Kepri  yang menarik hati sudah semenjak masa dikaji di bangku seolah.  Terutama sekali kajian « Gurindam Duabelas » gubahan pujangga Raja Ali Haji.

Maka benarlah benar kebenarannya opini, bahwasanya kebenaran itu indah. Iya, seperti  terbukti yang terungkapkan baris-karis kata puitis mengawali « Gurindam Duabelas » berbunyi :

« Simpanan Yang Indah

Ialah Ilmu Yang Memberi Faedah »

Sungguh !  Dalam sehari sejak pagi hari berkunjung seraya mengkaji inti makna Pulau Penyengat sampai kembali ke tepian Tanjungpinang lagi, pandang mata masih terpaut bahkan tertumpu pada tepian pulau legendaris itu. Sinar mentari kilau-kemilau menelusuri  gerak riak ombak putih keperak-perakan berubah kuning keemasan lantas kemerah-merahan.

Seketika pandang mataku beralih ke wajah sang gadis yang membawaku ke sini. Duhai ! wajahnya begitu cerah sumringah, berhias senyum berseri layaknya anugerah setulus hati. « Tidakkah keindahan nan indah itu sesungguhnya bermuara dari paduan hati dalam suasana keindahan yang dialami ? » bisikku di kedalaman relung hati. ***

Catatan: Ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim -- Mesjid Raya Pulau Penyengat.


K e h a r m o n i s a n

Cerpen

Oleh : A.Kohar Ibrahim

SAMAR samar suara aku dengar : « Monsieur masih tertidur. » Lantas : « Iya. Kita biarkan dahulu ngasoh. Nanti kita singgah lagi. »

Suara percakapan itu suara wanita. Meski aku coba membuka mata, tapi tak mudah. Hanya samar samar pula aku menampak dua sosok tubuh berbusana serba putih putih. Dalam alam realita-imajinasi, suara dan tubuh tubuh itu seperti bidadari yang begitu perhatian menghampiriku. Menjagaku. Merawat kesehatanku.

Sesungguhnya, sesaat kemudian aku sedari. Telah terjadi perubahan yang begitu cepat, nyaris tak terasa cepatnya seperti kilat. Perubahan dari beban keadaan berat teramat berat berubah ringan sangat. Rasa perasaan dan pikiranku begitu. Ragaku juga begitu. Terasa ringan teramat ringan seperti sehelai daun malah seperti sehelai bulu burung feniks yang ringan layang melayang di awang-awang lantas singgah dengan mudah di atas keharum-lembutan tanah. Seperti berada kembali ke asal bermulanya.

Iya. Begitulah adanya jiwa dan ragaku. Selagi terbaring di atas ranjang salah sebuah kamar Klinik Saint-Jean lantai atas, jelasnya di tingkat tiga dekat beranda. Terbaring dalam kesejukan hati kedamaian pikiran dan ringannya badan. Keadaan yang kontras dengan beberapa waktu sebelumnya.

Sebelumnya, terasa teramat berat di kepalaku. Pening. Juga tubuhku terasa berat keberatan yang melemah-lelahkan. Jadinya hanya bisa terbaring, terlentang di atas ranjang pasien. Untuk bisa mengangkat badan merubah posisi atau bangun beranjak beberapa langkah ke toilet, aku harus menggunakan alat berupa besi segi tiga yang menggelantung – disebut « peroqué ».

Tetapi, sesungguhnya, rasa perasaan berat itu bukan semata-mata volume atau berat badanku yang hanya 67 kilogram. Pun bukan lantaran besarnya kepalaku. Melainkan terutama sekali lantaran beban perasaan dan pikiran serta angan-angan yang saling baur berbauran bahkan berbenturan. Perbenturan antara asa dan kekurangan bahkan nyaris ketiadaan ; akan rajaman rasa ketidak-pastian, kepengapan dan kegelapan-pengapan berkenaan dengan apa yang akan segera aku alami. Mengalami aksi kekerasan berupa operasi bedah ; bagaimana menghadapinya ; bagaimana kelangsungannya ; bagaimana akhirnya atau hasilnya.

Sesunggunyalah percampur-bauran bahkan saling tabrakannya ragam perasaan itu tak lain tak bukan adalah bentuk perjuangan hidup-mati di dalam jiwa-ragaku. Manakah yang akan mengatasi dan menang – apakah hidup kehidupan ataukah mati kematian. Dalam pejamkan mata, kehitam-gelapan pelupuk mata terisi silih ganti permunculan lukisan klasik maupun modern yang berkaitan dengan perjuangan hidup-mati. Teristimewa sekali lukisan Pieter Bruegel : Le triomphe de la mort. Menangnya Kematian atau Kemenangan Sang Maut. Lukisan Bruegel tahun 1562 yang juga dinamai Teror itu suasananya mirip dengan peristiwa Teror Putih 1965 di Nusantara. Dalam mana dibawah komando RPKAD, pasukan bersenjata militer dan sipil melancarkan pembunuhan massal yang menelan korban manusia yang luarbiasa banyaknya. Kaum algojo itu, sembari secara salah-kaprah berteriak-teriak kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa dan Pengasih Penyayang, telah melakukan aksi teror di berbagai kota dan daerah sampai pelosok desa, bertindak selaku Malaikal Maut mencabut jutaan nyawa manusia tanpa dosa. Belum lagi teror berupa pembunuhan politik yang menerkam-cengkam jutaan manusia lainnya dengan rajaman ketakutan, was-was dan ragam macam penderitaan lahir-batin lainnya.

Lukisan Kemenangan Sang Maut Pieter Brugel itu lantas disusul dengan lukisan yang tak urung dahsyat gugah-gugatannya sekaitan dengan soal hidup dan mati. Yakni lukisan Rembrant : « La leçon d’anatomi du Dr Nicolaes Tulp », 1632. Sungguh, lukisan tentang mata pelajaran anatomi yang diberikan Dokter Tulp itu membikin hati dan pikiranku tergetar badanpun gemetar. Lantaran segera membayangkan diriku sendiri terbaring di atas meja operasi dikitari oleh team kedokteran dan para juru-rawat. « Aku belum mati ! » mendadak sontak teriakku dalam keterlelapan. Seketika terjaga. Tapi bola mataku sangat lambat terbuka. Sedang mulutku terasa kering mengering. Nafas terengah-engah. « Aku tak mau mati ! Aku mau Hidup ! » teriakku lagi, dengan bola mata masih tertutup pelupuk. Pelupuk mata yang hitam kelam lantas tersembul lukisan « Teriak » Edvard Munch. Lukisan yang mengekspresikan rasa was-was dan ketakutan itu terasa kian menakjubkan. Terasa, sepertinya, melukiskan teriakan jiwa-ragaku juga adanya.

Rejaman rasa perasaan waw-was dan ketakutan itu sepertinya tak mau usai menghujam jiwa-ragaku. Debar jantungku terasa begitu cepat, sedangkan mulut dan tenggorokan kian kering mengering. Tak tertahankan. Jari jemariku seketika menekan tombol warna merah, minta pertolongan juru-rawat. Yang dipanggil segea datang. Bukan hanya seorang melainkan dua orang juru-rawat perempuan mendampingi Dokter Dansart. Ketiganya berwajah sumringah. Belum lagi sempat aku membuka mulut, sang Dokter sudah mendahului dengan ujar kata yang ramah campur gembira :

« Keadaan gawat sudah lewat, Monsieur. Operasi berjalan lancar. Daya tahan Tuan luar-biasa. Istirahatlah baik-baik sembari menerima pengobatan lanjutan. Dalam beberapa hari  Anda boleh pulang ke rumah. »

« Merci infiniment, Monsieur le Docteur, »  ujarku dengan nada lemah tapi jelas. « Terima kasih tak berhingga, Tuan Dokter. »

« Apakah Anda memerlukan sesuatu ? » tanya salah seorang juru-rawat. « Jangan segan-segan, yah ? »

Anehnya, aku hanya menjawab pertanyaan sang juru-rawat itu dengan senyum, menggelengkan kepala pelan. Senyum yang mempertandakan kegembiraan di dalam diriku yang luar biasa. Rasa peningku dan rasa hausku sepertinya sirna seketika. Baru saja benar-benar menyadari, bahwasanya saat-saat yang paling gawat dan menentukan telah aku lewati. Untuk beberapa saat tak sepatah kata terucap, hanya saling menatap, saling menganugerahi senyum bening dan pandang mata memancarkan cahya keberhasilan. Keberhasilan menunaikan misinya masing-masing. Cahaya kemenangan hidup atas kematian itu bersinar. Sinar yang mudah dimaknai, sekali pun tanpa ujar kata.  Tatkala mereka beranjak pamit, sang dokter yang mengepalai team operasi bedah itu sempat mengulang pesan supaya aku bisa istirahat dengan penuh ketenang-santaian.

Pesannya aku balas dengan senym dan anggukan perlahan. Seketika tak terasa, bola mataku basah. Kiranya merekapun memahami, betapa hatiku gembira, bahagia campur haru. Bahkan bangga. Kebanggaan menerima layanan perawatan dari team kedokteran dan pengobatan yang cakap, penuh perhatian dan keramah-tamahan. Dengan perangkat peralatan yang modern dan canggih pula adanya. Sehingga aksi kekerasan terhadap tubuhku berupa operasi bedah itu berlangsung dengan lancar, nyaris tak terasa apa-apa.

Benarlah suatu kebenaran yang diucapkan oleh Dokter Dansart itu, sehari menjelang operasi, pernah bilang untuk meyakinkan diriku supaya tidak perlu khawatir. Karena tugas apa yang akan dipenuhinya itu bukan yang pertama kali, melainkan keseratusan kali. Dengan tambahan penjelasan tentang bagian usus atau kolon yang akan kena operasi. Jelasnya yang akan dikikis-habis hanyalah pada bagian yang teridap tumor saja. Untuk itu, ada bagian atas perutku yang akan ditembus  tiga lubang kecil, dan di bawah puser akan kena bedahan sepanjang sepuluh sentimeter. Sesudah penjelasan yang diberikan dokter ahli bedah itu, menyusul penjelasan dari Dokter Dumas yang mengepalai Servis Anesthésie. Selain penjeleasan yang diberikan mengenai anesthésie atau pembiusan anti-rasa-kesakitan itu, juga dimintanya aku untuk menanda-tangani dokumen kesepakatan untuk itu.

Iya, memang aku sepakat dengan isi dokumen berupa penyerahan kepercayaan kepada team kedokteran sekalian pengobatan-perawatan untuk menunaikan misinya, demi keberhasilan dan pemulihan kesehatanku sendiri. Kesepakatan yang utuh menyeluruh dan yang mampu memberikanku kepercayaan yang sarat akan asa terbaik. Kesepakatan yang menyejuk-tenangkan kalbuku. Meski kemudian, tak urung, aku kurang tidur. Lantaran rajaman perasaan lain yang tak mau terhapuskan, bahkan kadang kala menjadi-jadi : perasan khawair, was-was dan ketakutan akan terjemput Sang Maut. Jika saja operasi bedah atas diriku tidak mencapai hasil seperti yang diharapkan atau malah gagal total.

Perasaan yang menyakitkan itu terseling oleh pejaman mata beberapa jam, sampai jam enam pagi hari. Kemudian selingan yang berlangsung beberapa jam pula – semasa persiapan menjelang  masuk kamar operasi bedah pada jam sebelas. Pagi-pagi sekali dua orang juru-rawat sudah datang dengan misi membersihkan seluruh badanku. Supaya mencukur habis sampai kelimis kumis dan bagian intimku, lalu mandi di bawah pancuran air kamar mandi dengan menggunakan cairan sabun khusus. Semuanya aku lakukan dengan lancar dan sabar,  malah dengan gembira. Wajah sumringah, karena perasaan lega itu hanya berubah ketika – dalam keadaan terbaring di ranjang pasien -- aku dibawa ke lantai bawah-tanah. Ke ruangan besar bagian operasi bedah yang terasa lembab dan dingin.

Sementara menunggu saat yang menentukan, aku kembali berupaya melawan kegelisah-resahan, was-was dan ketakutan yang kembali menerkam-rajam semau-maunya. Untunglah, ingatanku senantiasa segar dan telingaku berfungsi wajar. Aku terkenang dan di telinga terngiang pesan dari team kedokteran dan pengobat-rawatan sekalian keluarga tercintaku untuk tabah dan menjaga kesabaran, bahkan keberanian menghadapi ujian.

Dalam suasana terasa dingin dan kediaman yang mencengkam, aku terus terlentang di atas ranjang, pelupuk mata terkatup. Hanya untuk mengisinya dengan serangkaian kenangan semenjak masa bocah, terutama saat pesta sunat. Lantas masa remaja ketika jadi bintang di sekolah sebagai juara gambar, pemenang lomba olah raga atau seni suara. Selagi jadi penulis sekaligus jurnalis pemula sampai berkedudukan sebagai redaktur untuk akhirnya terpilih sebagai anggota delegasi pengarang ke luar negeri. Ke negeri Kerajaan Tengah alias Tiongkok. Setelah dari Beijing membelah benua dengan keretapi Trans Siberia, melintasi Danau Baikal, transit di Moskow dan Berlin Barat, untuk akhirnya sampai ke ujurng Eropa Barat. Jadi sitoyen kota Brussel, Belgia. Melanjutkan aktivitas dan kreativitas sebagi penulis dan pelukis. Dari masa muda, dewasa sampai lansia. Entah berapa banyak naskah yang telah aku susun. Entah pula berapa karya gambar atau lukis yang aku gubah. Akan tetapi aku merasa belum cukup dan tak pernah merasa puas diri untuk akhirnya berhenti berkreasi. Masih banyak gagasan, rencana yang harus dan aku yakin bisa kutunai-rampungkan.

Namun apa daya, ketika memasuki hari pertama masa pensiunan -- yang sesungguhnya bagiku  bukan berarti menghentikan aktivitas-kreativitas, melainkan sebaliknyalah – mendadak sontak kesehatanku terganggu. Amat terganggu malah.

Begitulah jadinya, dampaknya, maka terjadi kontradiksi atau pertempuran di dalam diriku antara hasrat keinginan, impian dan idaman di satu pihak dengan aral perintang berupa kesulitan, terutama sekali gangguan kesehatan. Terkena telikungan keadaan badan yang kekurangan akibat kehilangan darah. Karenanya mesti menerima prawatan sampai menjalani operasi bedah di Klinik Sait-Jean ini. Yang baru saja aku alami dan lewati.

*

KINI hari ini, di sini, aku masih terbaring terlentang di atas ranjang pasien. Ketika seketika tapak tangan kanan meraba  dada dan perutku untuk meyakinkan diri apa yang telah aku alami, tiada ada rasa keanehan atau nyeri. Kecuali terbukti adanya balut pembalutan tiga potong tipis, persis letaknya seperti digambarkan oleh Dokter ahli bedah Dansart.

« Azaib, » bisiku, dalam hati, « aneh malah. Operasi bedah itu dan sesudahnya kini, sepertinya tak pernah terjadi apa-apa. Berlangsung santai dan usai begitu saja. Padahal telah terjadi aksi kekerasan berupa operasi bedah pembedahan atas tubuhku. Jelasnya atas perutku. Dalam keadaan terbaring, aku jadi terkenang kisah seorang pejuang. Kisah seorang serdadu yang tumbang di medan juang. Seperti yang dilukiskan penyair Arthur Rimbaud dalam karya puisinya berupa sajak berjudul « Le dormeur du val ».

Yang Tertidur Di Lembah

Adalah sebuah lubang di hamparan hijau di mana sebatang kali bernyanyi

Berpeluk seerat-eratnya pada rangkum rumput rerumputan jerami

Keemas-emasan, di mana mentari, di atas gunung megah,

Bersinar : adalah sebuah lembah yang membiaskan sinar.

Sorang serdadu muda, mulut ternganga, telanjang kepala

Dan tengkuk tenggelam dalam jerembak biru segar,

Tertidur : dia terlentang di atas rerumputan, bernaung mega,

Pucat pasi di atas ranjang hijaunya bermandikan sinar.

Kedua belah kaki di antara rerumputan, dia tertidur. Senyum seperti

Senyuman bocah menderita sakit, dia terlena.

Alam, dekaplah dia erat hangat : dia lagi kedinginan !

Harum wangi-wangian tak mengusik hidungnya ;

Dia tertidur bersimbah cahya mentari, tapak tangan di atas dada

Dia tenang. Dua lubang merah menembus iga kanannya.

Sajak Rimbaud itu mengingatkanku pada sajak Chairil Anwar « Antara Kerawang--Bekasi » yang juga menyanyikan lagu pejuang dalam menjalani misi perjuangan hidup kehidupan manusia. Terasa makna kehamonisannya. Keharmonisan bukan saja dalam makna isi dan bentuknya yang artistik, juga suasana yang digubahnya. Suasana antara sang manusia, sang pejuang, dengan alam sekitarnya. Di bawah kesejuk-hangatan cahya matahari yang cerah. Meski dalam derita sakit kesakitan namun senyum tabah, tidur terlena nampaknya. Tidur terlena yang sebenarnya gugur,  di medan laga. Dalam dekapan bumi alam semesta.

Dalam suasana bersimbah cahya dia tidak lagi menutut-gugat apa-apa. Dia sudah menunaikan ibadah atau misinya, dengan perolehan yang dicarinya : keharmonisan dalam jiwa-raganya, keharmonisan dengan alam semesta asal muasalnya.

Begitulah kesanku mengenang pejuang lukisan penyair Perancis Arthur Rimbaud « Le dormeur du val ». Yang Tertidur Di Lembah. Sang pejuang yang tumbang di medan laga dengan menjaga ketabahan dan marwah senantiasa.

Tapi sang pejuang itu gugurlah sudah. Sedangkan daku -- meski perutku tertembus tiga lubang dan segores sayatan --  masih hidup menjalani hidup kehidupan, dengan misi yang selayaknya aku penuhi. Mudah-mudahan kesampaian.

*

WAKTU sepertinya berjalan begitu cepat. Hari-hari terakhir yang tersediakan masih dalam perawatan selaku sitoyen Klinik Saint-Jean aku lalui seraya mengisinya dengan menulis kesan-kesan. Kesan sarat pesan yang aku kira layak memperkaya ingatan atau kenang-kenangan. Ingatan atau kenang-kenangan tersusun dalam tulisan yang pasti tak mudah punah. Selaras pribasa kata : « Omongan mabur tulisan tinggal menetap. » Dan layak pula, kiranya seberkas karya tulisku ini terdedikasikan pada semua mereka yang prihatin sekaligus perhatian akan keadaan kesehatanku. Baik keluarga tercintaku maupun Dokter Delille dan team kedokteran-pengobatan-perawatan Klinik Saint-Jean. Jelasnya : Sebagai pertanda rasa terima-kasih-ku yang tak berhingga adanya.

Aku tulis baris-baris kata kesan-pesanku ini di ruang beranda yang tenang, di atas meja kecil berhias tiga pot bunga. Pot bunga mungil yang masing-masing datang dari kalangan keluarga dan sobat-temanku teriring harapan akan pulihnya kesehatanku dengan segera.

Seketika tumpuan pandang mataku tertuju pada ketiga pot bunga indah yang menggairahkan itu. Seketika itu juga terasa kesejuk-nyamanan jiwa-ragaku. Seketika kemudian kulempar pandang ke luar seputar beranda. Lewat jendela kaca pemandangan luas terbentang. Bentangan jalan raya disebut Boulevard Jardin Botanique mendampingi taman luas dengan tumbuhan pepohonan dan aneka ragam tanaman bunga. Sang pepohonan besar kecil deret berderetan teratur rapih dengan warna hijau kehijauan yang ragam nuansanya. Begitu pula tanaman pohon bunga-bunganya, mulai mempertandakan kesegar-bugaran putik-putik yang kian hari kian merekah cantik. Merekahnya bunga-bungaan yang cantik lagi indah menyambut datangnya musim semi dengan simbahan cerahnya sinar mentari – penggugah wajah sumringah senyum berseri. *** (30.07.08)

Catatan :

Serangkuman kisah-kisah osmosia realita-imajinasi A.Kohar Ibrahim « Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati » selesai sampai di sini. Terima kasih kepada :  ACI, Bekasinews dan pengelola media elektronika lainnya, khususnya Multiply, pun sekalian pembaca yang berkenan.


Link: http://16j42.multiply.com

Selagi Mencari Si Rambut Pirang


Kisah Pendek
Oleh : A. Kohar Ibrahim


SORE hari itu, begitu turun dari taksi didampingi dua lelaki yang juga berpakaian preman namun nampak sigap-tegap, Tarpin bergegas melangkah masuk Hotel Pas, naik ke tingkat satu cepat cepat layaknya melompat, menuju Kamar 7. Pintu kamar sudah terbuka , dibukakan oleh manajer hotel, khusus untuknya. Untuk yang kedua kalinya hari itu.

Berbeda dengan kunjungannya yang pertama kali sekitar jam 5 pagi, ketika penghuni Kamar 7 bernama Johan ditemukan pingsan kena pukul babak belur, kali ini Tarpin dan dua orang pendampingnya cepat keluar kembali. Berpesan pada sang manager agar jangan seorangpun memasuki kamar itu tanpa izin yang berwajib, teriring pertanyaan : « Patung garuda di atas mejatulis itu milik penghuni kamar ini, kan ? »

« Iya, Pak, » jawab Iwan sang manajer. « Juga sejumlah VCD di dalam laci meja itu. Semua barang-barangnya masih utuh.»

« Ehm, makasih, » ujar Tarpin sembari senyum kecil mengengar kata-kata terakhir. « Hah, masih utuh ? » tanyanya, tapi hanya dalam hati saja. Dan dia segera turun ke bawah. Di depan pintu keluar, dua orang pendampingnya melanjutkan langkah sigap-tegapnya, sedangkan Tarpin beranjak menuju ruang besar bar dan secara kebetulan meja dan kursi favoritnya yang terletak di pojokan kosong. Ketika seorang pelayan menghampirinya, dia memesan minuman seperti biasanya : « Kopi tubruk. Persediaannya belum habis ? »

« Masih banyak, Pak . Gak usah kuatir, Bos malah sudah beli se-pak lagi. »

« Makasih, makasih. Eh, bilang terimakasih saya pada Bos, yah ? » ujar Tarpin, terduduk, meletakkan kedua sikunya di atas meja dan dengan gerakan seperti orang mengambil air wudhu mengusap muka seraya mengucap : « Astagafirullah… »

Seketika terbayang di kelopak matanya sosok lelaki Eropa yang kekar dan cukup tampan mirip aktor Rambo Stalonne yang di pagi buta tadi cekakaran di dalam Kamar 7 yang dihuninya. Masih segar sekali dalam ingatannya, seminggu lalu, di hari Minggu yang cerah. Disaksikannya sendiri bagaimana lelaki itu begitu riang dan malah menunjukkan kebanggaan masuk hotel itu dengan didampingi dua orang gadis. Gadis gadis yang bukan saja masih muda muda melainkan juga cantik, mengenakan pakaian sporti berambut hitam panjang berkulit putih bersih berwajah cantik seperti mojang Parahiyangan.

« Bukan seperti mojang Parahiyangan, » desisnya, seperti lagi berdialog interaktif dengan kenangannya sendiri. « Gadis-gadis cantik itu memang orang Sunda. » Lantas ingatannya membenarkan, ketika mereka duduk mengitari meja yang hanya selang semeja dari mejanya sendiri, suara mereka berlogat Sunda baik dalam memesan minuman Teh Obeng maupun obrolan sekitar penyanyi kondang Mylene Farmer. « Geulis teuing, Is… » ujar gadis pertama sembari memeperlihatkan CD Dance Remixes yang dikeluarkan dari dalam tasnya, seraya senyum melirik lelaki Eropa yang menatapnya seperti terhipnotis saja. « Nuhun banget, kang Johan. Dank U…» Dan yang tertuju senyum tersipu, senang bilang: “Only for you, Dewi.” Untuknya sorangan? Seketika gadis kedua nyeletuk cemburu: “Et pour moi, mana?” Dijawab kontan oleh sang akang Johan sembari mengeluarkan sebuah CD dari dalam tas warna hitamnya yang cukup besar: “Voilà pour toi, cherie: La Sensualité de Axel Red…” Dan si gadis penerima mendadak beranjak girang layaknya mau melompat menubruk-cium sang pemberi, tapi seketika itu pula dia kembali ingat diri, tengok kanan kiri, lantas hanya senyum menancap pandang seraya mengucap: “Merçi beaucoup, Mijnheer Johan Hendrik! Gue seneng banget, deh.” Dan si lelaki yang ternyata bernama Johan Hendrik itu hanya bilang bernada girang pula: “Pour toi seul, Mirah Isniah çayang. Untukmu saja, yah?” Dan meneruskan dengan menggumamkan nada lagu Sensualité, seraya beranjak mengajak kedua gadis itu keluar dari ruang bar menaiki tingkat pertama masuk ke Kamar 7.

Sekali lagi, seperti seketika itu, Tarpin mengusap mukanya dengan kedua belah tapaktangan seperti lagi mengambil air wudhu. Sekalipun kelopak matanya tertutup, namun mata hati dan pikiran terutama sekali imajinasinya menayangkan berbagai gambaran yang memungkinkan. Segala kemungkinan adegan jika seorang lelaki ganteng memasuki kamar hotel didampingi dua gadis jelita. Apa pula keduanya sekalipun mengenakan pakaian sporti namun cukuplah seksi. Dan apalagi kedua gadis itu nampaknya anggota fans penyanyi kondang internasional yang masing masing bernama Mylene Farmer dan Axel Red.

“Bukan nampaknya nge-fans Mylene dan Axel Red,” bisik hatinya, membantah sekaligus menegaskan daya ingat benaknya. “Keduanya memang fanatik kedua penyanyi senso-romantika itu, yang dalam penampilannya di panggung konser sebagai “lady in red” yang rambut pirang panjangnya beruntai-untai bak nyala api tak ubahnya seperti “birds of fire” alias burung feniks lambang kegairah-abadian.”

Rupanya semua indikasi itu erat berkaitan dengan pesan yang diberikan Mas Syakuran sesaat menjelang keberangkatannya ke mancanegara. Di Bandara Hang Nadim dia bilang dengan nada tenang perlahan: “Pin, cepat pulang. Di dalam kotak surat ada amplop sampul coklat dari Belgia. Isinya sudah aku nikmati. Karena keberangkatanku, aku minta bantuanmu untuk turut mengenal si Belanda ganteng itu.” Memang benar, sesampainya di rumah dia temukan amplop warna coklat. Di dalamnya ada sekian lembar dolar Amerika dan selembar kertas pembungkus coklat made in Belgia: Côte d’Or. “Sialan,” umpatnya saat itu, “sudah dilahapnya semua, hanya ninggalin bungkusannya doang”. Akan tetapi, ada yang amat bermakna tertera di bungkusan itu, berupa indikasi: Antwerpen-Brussel-Paris. Indikasi yang membawanya ke pintu observasi lebih jauh. Antara lain justeru berkenaan dengan si ganteng yang sebenarnya bukan wong Belanda, melainkan orang Belgia berbahasa Belanda alias Vlaams. Johan Hendrik yang berbapak Belgia beribu Perancis itu penggemar musik dan film, pemilik klab-studio Video Universalia dan sering kelayaban di mancanegara menamakan diri sebagai sineas pemburu artis muda berbakat hebat dan khas. “Pemburu artis muda berbakat khas? „ tanyanya sembari mengerutkan kening, menghenyakkan diri di kursi sofa.

Kini, untuk kesekian kalinya, Tarpin mengusap muka dengan keduabelah tapak tangan seperti lagi mengambil air wudhu, menghela nafas panjang seraya mengingat akan obrolan Johan dengan kedua gadis penggemar lagu-lagu penyanyi Mylane Farmer dan Axel Red. Yang masing masing ada kesamaan dan kekhasannya, yang rupanya amat memikat Dewi dan Mirah – pendamping si ganteng Rambo Johan Hendrik itu. Yang paling menonjol adalah penampilan sekaligus lagu-lagu ke-eros-sensual-romantikaan mereka. Dan kedua-duanya berambut pirang bahkan kemerah-merahan menyala gairah. Terutama sekali ketika masing masing membawakan lagu „Beyond my control“ dan „Sensualité“. Akan tetapi, meskipun begitu, masih ada keragu-raguan ketika dari California Mas Syakuran menelponnya, bahwa si Rambo Belgia itu memang sedang memburu calon calon artis untuk berperan sebagai tokoh tokoh film berambut pirang kayak Mylene dan Red. “Tapi saya saksikan sendiri, si Rambo bersama dua gadis memang manis tapi rambutnya hitam legam,” jelasnya dengan nada serius. Tapi dapat balasan dengan nada tawa: “Pin, soal warna rambut itu mah gampang dirobah. Dicelup sebentar aja, dah ganti warna. Coba simak foto ini.” Seketika menyimak foto di layar kaca mini HP itu, Tarpin membelalakkan mata seraya menggelengkan kepala. Lebih-lebih lagi tatkala teriring suara penegasan: “Inilah Dewi dan Mirah itu. Tanpa proses penyeleksian, mereka akan langsung memegang peran dalam film maupun tampil di karaoke Florida, New York dan Texas masing masing sebagai Mylene dan Red. Nyaho?”

Ketika beberapa hari yang lalu Tarpin dikonfirmasi oleh Syakuran mengenai perburuan gadis gadis berambut pirang, dia tegaskan setegas-tegasnya dengan nada seperti lagi bersumpah di depan pengadilan: “Demi Allah, si Rambo sudah beberapa hari ini sering sendirian saja.”

“Great..._” sambut suara HP dari tanah seberang dengan nada girang. Tarpin senyum nyaris tawa kecil terkitik ujar kata Syakuran berbahasa Ingris Amerika. Kok bisa begitu cepat adaptasinya, yah? Tapi belum sempat bertanya, sudah terdengar susulan suara: “Mister Rambo Belgia itu akan segera nyusul dewi dan bidadarinya yang sudah sampai di States.”

“Wah, celaka!” jelas Tarpin sore hari ini, ketika dikonfirmasi sekali lagi oleh Mas Syakuran dari California. “Sang Rambo Johan Hendrik kini masih dirawat berat di Rumah Sakit. Saya khawatir…”

“Aku dah dapat khabar soal ini, Pin. Mungkin sebabnya apakah dia coba-coba menggaet gadis yang kebetulan puteri pejabat setempat, ataukah belum membayar apa yang dijanjikannya pada para pengawal Dewi dan Mirah dari Jawa Barat sana. Para pengawal itu juga jawara yang bisa memperlihatkan kekhasannya. Mereka juga aktor aktor pemegang peran penting. Dan yang terpenting, jaga jangan sampai sang Rambo berpulang... Itu bisa menggagalkan proyek film Eros Eksotikanya nanti.”

“Wah! Kalau soal nyawa, itu mah diluar kesanggupanku!” ujar Tarpin memprotes, tapi tak kesempatan keluar dari tenggorokannya. Tercenung menung sebentar, mencoba memaknai ujar kata Mas Syakuran. Terutama sekali mengenai jenis perfilman yang dimaksudkan, itu tentu saja hanya penyebutan eksentrik dari taktik-trik industri pornografi yang di Amerika sedang marak-maraknya. Akan halnya di sini sendiri? Bukankah juga sudah ada yang ketularan dengan memproduksi film sejenis berjudul “Batam Bara Asmara”. Ah, apa hubungannya dengan sang pemburu gadis berambut pirang yang menyala kemerah-merahan? ***

Catatan:
Kispen : kisah pendek, Cerpen: cerita pendek. Ilustrasi foto penulis A.Kohar Ibrahim di Batam.


Kepulauan Riau
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help