K e h a r m o n i s a n
Cerpen
Oleh : A.Kohar Ibrahim
SAMAR samar suara aku dengar : « Monsieur masih tertidur. » Lantas : « Iya. Kita biarkan dahulu ngasoh. Nanti kita singgah lagi. »
Suara percakapan itu suara wanita. Meski aku coba membuka mata, tapi tak mudah. Hanya samar samar pula aku menampak dua sosok tubuh berbusana serba putih putih. Dalam alam realita-imajinasi, suara dan tubuh tubuh itu seperti bidadari yang begitu perhatian menghampiriku. Menjagaku. Merawat kesehatanku.
Sesungguhnya, sesaat kemudian aku sedari. Telah terjadi perubahan yang begitu cepat, nyaris tak terasa cepatnya seperti kilat. Perubahan dari beban keadaan berat teramat berat berubah ringan sangat. Rasa perasaan dan pikiranku begitu. Ragaku juga begitu. Terasa ringan teramat ringan seperti sehelai daun malah seperti sehelai bulu burung feniks yang ringan layang melayang di awang-awang lantas singgah dengan mudah di atas keharum-lembutan tanah. Seperti berada kembali ke asal bermulanya.
Iya. Begitulah adanya jiwa dan ragaku. Selagi terbaring di atas ranjang salah sebuah kamar Klinik Saint-Jean lantai atas, jelasnya di tingkat tiga dekat beranda. Terbaring dalam kesejukan hati kedamaian pikiran dan ringannya badan. Keadaan yang kontras dengan beberapa waktu sebelumnya.
Sebelumnya, terasa teramat berat di kepalaku. Pening. Juga tubuhku terasa berat keberatan yang melemah-lelahkan. Jadinya hanya bisa terbaring, terlentang di atas ranjang pasien. Untuk bisa mengangkat badan merubah posisi atau bangun beranjak beberapa langkah ke toilet, aku harus menggunakan alat berupa besi segi tiga yang menggelantung – disebut « peroqué ».
Tetapi, sesungguhnya, rasa perasaan berat itu bukan semata-mata volume atau berat badanku yang hanya 67 kilogram. Pun bukan lantaran besarnya kepalaku. Melainkan terutama sekali lantaran beban perasaan dan pikiran serta angan-angan yang saling baur berbauran bahkan berbenturan. Perbenturan antara asa dan kekurangan bahkan nyaris ketiadaan ; akan rajaman rasa ketidak-pastian, kepengapan dan kegelapan-pengapan berkenaan dengan apa yang akan segera aku alami. Mengalami aksi kekerasan berupa operasi bedah ; bagaimana menghadapinya ; bagaimana kelangsungannya ; bagaimana akhirnya atau hasilnya.
Sesunggunyalah percampur-bauran bahkan saling tabrakannya ragam perasaan itu tak lain tak bukan adalah bentuk perjuangan hidup-mati di dalam jiwa-ragaku. Manakah yang akan mengatasi dan menang – apakah hidup kehidupan ataukah mati kematian. Dalam pejamkan mata, kehitam-gelapan pelupuk mata terisi silih ganti permunculan lukisan klasik maupun modern yang berkaitan dengan perjuangan hidup-mati. Teristimewa sekali lukisan Pieter Bruegel : Le triomphe de la mort. Menangnya Kematian atau Kemenangan Sang Maut. Lukisan Bruegel tahun 1562 yang juga dinamai Teror itu suasananya mirip dengan peristiwa Teror Putih 1965 di Nusantara. Dalam mana dibawah komando RPKAD, pasukan bersenjata militer dan sipil melancarkan pembunuhan massal yang menelan korban manusia yang luarbiasa banyaknya. Kaum algojo itu, sembari secara salah-kaprah berteriak-teriak kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa dan Pengasih Penyayang, telah melakukan aksi teror di berbagai kota dan daerah sampai pelosok desa, bertindak selaku Malaikal Maut mencabut jutaan nyawa manusia tanpa dosa. Belum lagi teror berupa pembunuhan politik yang menerkam-cengkam jutaan manusia lainnya dengan rajaman ketakutan, was-was dan ragam macam penderitaan lahir-batin lainnya.
Lukisan Kemenangan Sang Maut Pieter Brugel itu lantas disusul dengan lukisan yang tak urung dahsyat gugah-gugatannya sekaitan dengan soal hidup dan mati. Yakni lukisan Rembrant : « La leçon d’anatomi du Dr Nicolaes Tulp », 1632. Sungguh, lukisan tentang mata pelajaran anatomi yang diberikan Dokter Tulp itu membikin hati dan pikiranku tergetar badanpun gemetar. Lantaran segera membayangkan diriku sendiri terbaring di atas meja operasi dikitari oleh team kedokteran dan para juru-rawat. « Aku belum mati ! » mendadak sontak teriakku dalam keterlelapan. Seketika terjaga. Tapi bola mataku sangat lambat terbuka. Sedang mulutku terasa kering mengering. Nafas terengah-engah. « Aku tak mau mati ! Aku mau Hidup ! » teriakku lagi, dengan bola mata masih tertutup pelupuk. Pelupuk mata yang hitam kelam lantas tersembul lukisan « Teriak » Edvard Munch. Lukisan yang mengekspresikan rasa was-was dan ketakutan itu terasa kian menakjubkan. Terasa, sepertinya, melukiskan teriakan jiwa-ragaku juga adanya.
Rejaman rasa perasaan waw-was dan ketakutan itu sepertinya tak mau usai menghujam jiwa-ragaku. Debar jantungku terasa begitu cepat, sedangkan mulut dan tenggorokan kian kering mengering. Tak tertahankan. Jari jemariku seketika menekan tombol warna merah, minta pertolongan juru-rawat. Yang dipanggil segea datang. Bukan hanya seorang melainkan dua orang juru-rawat perempuan mendampingi Dokter Dansart. Ketiganya berwajah sumringah. Belum lagi sempat aku membuka mulut, sang Dokter sudah mendahului dengan ujar kata yang ramah campur gembira :
« Keadaan gawat sudah lewat, Monsieur. Operasi berjalan lancar. Daya tahan Tuan luar-biasa. Istirahatlah baik-baik sembari menerima pengobatan lanjutan. Dalam beberapa hari Anda boleh pulang ke rumah. »
« Merci infiniment, Monsieur le Docteur, » ujarku dengan nada lemah tapi jelas. « Terima kasih tak berhingga, Tuan Dokter. »
« Apakah Anda memerlukan sesuatu ? » tanya salah seorang juru-rawat. « Jangan segan-segan, yah ? »
Anehnya, aku hanya menjawab pertanyaan sang juru-rawat itu dengan senyum, menggelengkan kepala pelan. Senyum yang mempertandakan kegembiraan di dalam diriku yang luar biasa. Rasa peningku dan rasa hausku sepertinya sirna seketika. Baru saja benar-benar menyadari, bahwasanya saat-saat yang paling gawat dan menentukan telah aku lewati. Untuk beberapa saat tak sepatah kata terucap, hanya saling menatap, saling menganugerahi senyum bening dan pandang mata memancarkan cahya keberhasilan. Keberhasilan menunaikan misinya masing-masing. Cahaya kemenangan hidup atas kematian itu bersinar. Sinar yang mudah dimaknai, sekali pun tanpa ujar kata. Tatkala mereka beranjak pamit, sang dokter yang mengepalai team operasi bedah itu sempat mengulang pesan supaya aku bisa istirahat dengan penuh ketenang-santaian.
Pesannya aku balas dengan senym dan anggukan perlahan. Seketika tak terasa, bola mataku basah. Kiranya merekapun memahami, betapa hatiku gembira, bahagia campur haru. Bahkan bangga. Kebanggaan menerima layanan perawatan dari team kedokteran dan pengobatan yang cakap, penuh perhatian dan keramah-tamahan. Dengan perangkat peralatan yang modern dan canggih pula adanya. Sehingga aksi kekerasan terhadap tubuhku berupa operasi bedah itu berlangsung dengan lancar, nyaris tak terasa apa-apa.
Benarlah suatu kebenaran yang diucapkan oleh Dokter Dansart itu, sehari menjelang operasi, pernah bilang untuk meyakinkan diriku supaya tidak perlu khawatir. Karena tugas apa yang akan dipenuhinya itu bukan yang pertama kali, melainkan keseratusan kali. Dengan tambahan penjelasan tentang bagian usus atau kolon yang akan kena operasi. Jelasnya yang akan dikikis-habis hanyalah pada bagian yang teridap tumor saja. Untuk itu, ada bagian atas perutku yang akan ditembus tiga lubang kecil, dan di bawah puser akan kena bedahan sepanjang sepuluh sentimeter. Sesudah penjelasan yang diberikan dokter ahli bedah itu, menyusul penjelasan dari Dokter Dumas yang mengepalai Servis Anesthésie. Selain penjeleasan yang diberikan mengenai anesthésie atau pembiusan anti-rasa-kesakitan itu, juga dimintanya aku untuk menanda-tangani dokumen kesepakatan untuk itu.
Iya, memang aku sepakat dengan isi dokumen berupa penyerahan kepercayaan kepada team kedokteran sekalian pengobatan-perawatan untuk menunaikan misinya, demi keberhasilan dan pemulihan kesehatanku sendiri. Kesepakatan yang utuh menyeluruh dan yang mampu memberikanku kepercayaan yang sarat akan asa terbaik. Kesepakatan yang menyejuk-tenangkan kalbuku. Meski kemudian, tak urung, aku kurang tidur. Lantaran rajaman perasaan lain yang tak mau terhapuskan, bahkan kadang kala menjadi-jadi : perasan khawair, was-was dan ketakutan akan terjemput Sang Maut. Jika saja operasi bedah atas diriku tidak mencapai hasil seperti yang diharapkan atau malah gagal total.
Perasaan yang menyakitkan itu terseling oleh pejaman mata beberapa jam, sampai jam enam pagi hari. Kemudian selingan yang berlangsung beberapa jam pula – semasa persiapan menjelang masuk kamar operasi bedah pada jam sebelas. Pagi-pagi sekali dua orang juru-rawat sudah datang dengan misi membersihkan seluruh badanku. Supaya mencukur habis sampai kelimis kumis dan bagian intimku, lalu mandi di bawah pancuran air kamar mandi dengan menggunakan cairan sabun khusus. Semuanya aku lakukan dengan lancar dan sabar, malah dengan gembira. Wajah sumringah, karena perasaan lega itu hanya berubah ketika – dalam keadaan terbaring di ranjang pasien -- aku dibawa ke lantai bawah-tanah. Ke ruangan besar bagian operasi bedah yang terasa lembab dan dingin.
Sementara menunggu saat yang menentukan, aku kembali berupaya melawan kegelisah-resahan, was-was dan ketakutan yang kembali menerkam-rajam semau-maunya. Untunglah, ingatanku senantiasa segar dan telingaku berfungsi wajar. Aku terkenang dan di telinga terngiang pesan dari team kedokteran dan pengobat-rawatan sekalian keluarga tercintaku untuk tabah dan menjaga kesabaran, bahkan keberanian menghadapi ujian.
Dalam suasana terasa dingin dan kediaman yang mencengkam, aku terus terlentang di atas ranjang, pelupuk mata terkatup. Hanya untuk mengisinya dengan serangkaian kenangan semenjak masa bocah, terutama saat pesta sunat. Lantas masa remaja ketika jadi bintang di sekolah sebagai juara gambar, pemenang lomba olah raga atau seni suara. Selagi jadi penulis sekaligus jurnalis pemula sampai berkedudukan sebagai redaktur untuk akhirnya terpilih sebagai anggota delegasi pengarang ke luar negeri. Ke negeri Kerajaan Tengah alias Tiongkok. Setelah dari Beijing membelah benua dengan keretapi Trans Siberia, melintasi Danau Baikal, transit di Moskow dan Berlin Barat, untuk akhirnya sampai ke ujurng Eropa Barat. Jadi sitoyen kota Brussel, Belgia. Melanjutkan aktivitas dan kreativitas sebagi penulis dan pelukis. Dari masa muda, dewasa sampai lansia. Entah berapa banyak naskah yang telah aku susun. Entah pula berapa karya gambar atau lukis yang aku gubah. Akan tetapi aku merasa belum cukup dan tak pernah merasa puas diri untuk akhirnya berhenti berkreasi. Masih banyak gagasan, rencana yang harus dan aku yakin bisa kutunai-rampungkan.
Namun apa daya, ketika memasuki hari pertama masa pensiunan -- yang sesungguhnya bagiku bukan berarti menghentikan aktivitas-kreativitas, melainkan sebaliknyalah – mendadak sontak kesehatanku terganggu. Amat terganggu malah.
Begitulah jadinya, dampaknya, maka terjadi kontradiksi atau pertempuran di dalam diriku antara hasrat keinginan, impian dan idaman di satu pihak dengan aral perintang berupa kesulitan, terutama sekali gangguan kesehatan. Terkena telikungan keadaan badan yang kekurangan akibat kehilangan darah. Karenanya mesti menerima prawatan sampai menjalani operasi bedah di Klinik Sait-Jean ini. Yang baru saja aku alami dan lewati.
*
KINI hari ini, di sini, aku masih terbaring terlentang di atas ranjang pasien. Ketika seketika tapak tangan kanan meraba dada dan perutku untuk meyakinkan diri apa yang telah aku alami, tiada ada rasa keanehan atau nyeri. Kecuali terbukti adanya balut pembalutan tiga potong tipis, persis letaknya seperti digambarkan oleh Dokter ahli bedah Dansart.
« Azaib, » bisiku, dalam hati, « aneh malah. Operasi bedah itu dan sesudahnya kini, sepertinya tak pernah terjadi apa-apa. Berlangsung santai dan usai begitu saja. Padahal telah terjadi aksi kekerasan berupa operasi bedah pembedahan atas tubuhku. Jelasnya atas perutku. Dalam keadaan terbaring, aku jadi terkenang kisah seorang pejuang. Kisah seorang serdadu yang tumbang di medan juang. Seperti yang dilukiskan penyair Arthur Rimbaud dalam karya puisinya berupa sajak berjudul « Le dormeur du val ».
Yang Tertidur Di Lembah
Adalah sebuah lubang di hamparan hijau di mana sebatang kali bernyanyi
Berpeluk seerat-eratnya pada rangkum rumput rerumputan jerami
Keemas-emasan, di mana mentari, di atas gunung megah,
Bersinar : adalah sebuah lembah yang membiaskan sinar.
Sorang serdadu muda, mulut ternganga, telanjang kepala
Dan tengkuk tenggelam dalam jerembak biru segar,
Tertidur : dia terlentang di atas rerumputan, bernaung mega,
Pucat pasi di atas ranjang hijaunya bermandikan sinar.
Kedua belah kaki di antara rerumputan, dia tertidur. Senyum seperti
Senyuman bocah menderita sakit, dia terlena.
Alam, dekaplah dia erat hangat : dia lagi kedinginan !
Harum wangi-wangian tak mengusik hidungnya ;
Dia tertidur bersimbah cahya mentari, tapak tangan di atas dada
Dia tenang. Dua lubang merah menembus iga kanannya.
Sajak Rimbaud itu mengingatkanku pada sajak Chairil Anwar « Antara Kerawang--Bekasi » yang juga menyanyikan lagu pejuang dalam menjalani misi perjuangan hidup kehidupan manusia. Terasa makna kehamonisannya. Keharmonisan bukan saja dalam makna isi dan bentuknya yang artistik, juga suasana yang digubahnya. Suasana antara sang manusia, sang pejuang, dengan alam sekitarnya. Di bawah kesejuk-hangatan cahya matahari yang cerah. Meski dalam derita sakit kesakitan namun senyum tabah, tidur terlena nampaknya. Tidur terlena yang sebenarnya gugur, di medan laga. Dalam dekapan bumi alam semesta.
Dalam suasana bersimbah cahya dia tidak lagi menutut-gugat apa-apa. Dia sudah menunaikan ibadah atau misinya, dengan perolehan yang dicarinya : keharmonisan dalam jiwa-raganya, keharmonisan dengan alam semesta asal muasalnya.
Begitulah kesanku mengenang pejuang lukisan penyair Perancis Arthur Rimbaud « Le dormeur du val ». Yang Tertidur Di Lembah. Sang pejuang yang tumbang di medan laga dengan menjaga ketabahan dan marwah senantiasa.
Tapi sang pejuang itu gugurlah sudah. Sedangkan daku -- meski perutku tertembus tiga lubang dan segores sayatan -- masih hidup menjalani hidup kehidupan, dengan misi yang selayaknya aku penuhi. Mudah-mudahan kesampaian.
*
WAKTU sepertinya berjalan begitu cepat. Hari-hari terakhir yang tersediakan masih dalam perawatan selaku sitoyen Klinik Saint-Jean aku lalui seraya mengisinya dengan menulis kesan-kesan. Kesan sarat pesan yang aku kira layak memperkaya ingatan atau kenang-kenangan. Ingatan atau kenang-kenangan tersusun dalam tulisan yang pasti tak mudah punah. Selaras pribasa kata : « Omongan mabur tulisan tinggal menetap. » Dan layak pula, kiranya seberkas karya tulisku ini terdedikasikan pada semua mereka yang prihatin sekaligus perhatian akan keadaan kesehatanku. Baik keluarga tercintaku maupun Dokter Delille dan team kedokteran-pengobatan-perawatan Klinik Saint-Jean. Jelasnya : Sebagai pertanda rasa terima-kasih-ku yang tak berhingga adanya.
Aku tulis baris-baris kata kesan-pesanku ini di ruang beranda yang tenang, di atas meja kecil berhias tiga pot bunga. Pot bunga mungil yang masing-masing datang dari kalangan keluarga dan sobat-temanku teriring harapan akan pulihnya kesehatanku dengan segera.
Seketika tumpuan pandang mataku tertuju pada ketiga pot bunga indah yang menggairahkan itu. Seketika itu juga terasa kesejuk-nyamanan jiwa-ragaku. Seketika kemudian kulempar pandang ke luar seputar beranda. Lewat jendela kaca pemandangan luas terbentang. Bentangan jalan raya disebut Boulevard Jardin Botanique mendampingi taman luas dengan tumbuhan pepohonan dan aneka ragam tanaman bunga. Sang pepohonan besar kecil deret berderetan teratur rapih dengan warna hijau kehijauan yang ragam nuansanya. Begitu pula tanaman pohon bunga-bunganya, mulai mempertandakan kesegar-bugaran putik-putik yang kian hari kian merekah cantik. Merekahnya bunga-bungaan yang cantik lagi indah menyambut datangnya musim semi dengan simbahan cerahnya sinar mentari – penggugah wajah sumringah senyum berseri. *** (30.07.08)
Catatan :
Serangkuman kisah-kisah osmosia realita-imajinasi A.Kohar Ibrahim « Sitoyen Saint-Jean : Antara Hidup Dan Mati » selesai sampai di sini. Terima kasih kepada : ACI, Bekasinews dan pengelola media elektronika lainnya, khususnya Multiply, pun sekalian pembaca yang berkenan.