Group's posts with tag: fiksi-realitas

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Link: http://16j42.multiply.com


Korban Gambar

Kispen
Oleh : A. Kohar Ibrahim


DARI balik jendela kaca besar Hotel Pas tingkat tiga, Tarpin menebar pandang jauh ke luar. Keanehan dirasakan seketika, kenapa pagi hari itu, cakrawala diliput kabut cukup tebal. Pelabuhan sepi seperti mati. « Aneh,» bisiknya, mengeluarkan desar perasaan dan pikirannya seraya turun sampai ke tingkat satu.

Dari balik kaca jendela tingkat satu pun suasana pagi yang buram itu tetap mencengkam. Lebih-lebih lagi malah, ketika kemudian terdengar guntur menggelegar dan hujan pun turun perlahan. Setelah melewati Kamar 7, Tarpin langsung menuruni tangga-tangga ke lantai bawah, menuju ruang bar yang lebar dan seperti lazimnya duduk di kursi meja yang terletak di pojok.

Seperti biasa, ketika disapa seorang pelayan, Tarpin memesan minuman kesenangannya : Secangkir kopi tubruk. Seraya pesan : « Tolong bawakan juga bundel koran, yah. »

Beberapa saat kemudian, begitu pesanannya diterima, segera disimaknya halaman-halaman koran. Selain berita utama halaman utama, langsung saja dia membuka halaman yang memuat berita-berita kriminalitas dan kejadian-kejadian dimana pihak yang berwajib turun tangan. Beberapa diantaranya amat mencengkam perhatiannya :

«Jauh Isteri Bocah Digauli. »

«Gagal Mudik Tertarik Bocah Cantik . »

« Lamunan Basah Bikin Payah Bocah. »

« Muka Biru Gara-gara Film Biru. »

« Pelaiboi Ngoboi Terjerat Stagen. »

« Anak Kandung Celaka 12 Tahun Dikurung. »

« Gara-Gara Gambar Nama Tercemar. »

Tiap kali Tarpin selesai membaca sejudul berita itu, dihirupnya kopi tubruk yang disajikan sang pelayan hotel. Sebagai layan khusus untuknya sendiri. Dan dia memang menikmatinya – baik layanan itu maupun yang utama sekali adalah rasa sekaligus aroma kopi sebagai minuman favoritnya.

Akan tetapi, hari itu rasanya lebih istimewa lagi dari biasanya. Apakah lantaran di luar hujan gerimis yang turun berkepanjangan makanya dia lebih betah duduk-duduk di kursi menghadapi meja bundar sembari minum kopi ? Sesekali dia menghela nafas panjang. Sesekali dia melepas lipatan koran yang dibacanya. Sesekali pula dengan tangan kanannya dia mengangkat cangkir untuk mereguk kopi-tubruknya. Gerak-gerik sederhana sembari menyimak berita-berita sederhana kriminalitas itulah rupanya yang menggeletik hati. Dibacanya dari berita yang pertama sampai yang ketujuh. Dan ketika rampung membacanya, dia tumpuk rapih koran-koran daerah maupun pusat itu. Kemudian meletakkan kedua siku di atas daun meja seraya usap mengusap tapak tangan bagai orang sedang mengambil air wudhu ; mempertemukan kesepuluh jari-jemari seraya meletakkan dagunya. Termenung.

Tarpin nampak termenung. Diam. Tapi pikirannya sedang melayang-layang. Orang tak tahu, sesungguhnya dia sedang terus memperhatikan lalu lintas di luar, sekaligus juga keluar-masuk para tamu Hotel Pas yang nampaknya selalu banyak pengunjung ataupun penghuninya. Terutama sekali salah seorang penghuni yang bernama Johan Hendrik alias Rambo Belgia dan orang-orang sekitarnya, atau para pengunjungnya.

Layangan pikirannya juga bukan sekedar menerawang angkasa Batam ataupun untaian kepulauan Riau keseluruhan. Melainkan juga sampai ke benua Amerika dan Eropa Barat, bahkan sampai ke Moskow ! Lantaran, dari perkembangan yang terakhir, melalui ponsel dia terima kabar penting sekaligus genting. Bahwa menurut Mas Syakuran, dalam waktu dekat mendatang kupu-kupu dari Moskow akan beterbangan di taman indah Nusantara. Dia memberi isyarat rahasia, supaya hati-hati menghadapi jaringan mafia Rusia yang sering mengambil tindakan tanpa ampun terhadap lawan atau saingan. « Nah, jadi makin gairah saja, kan ? » tambah Syakuran, yang juga dengan suara gairah. Malah bangga mengaku sendiri : « Aku sudah nyicipi masakan khas Rusia, gulash. Enak juga, meski aku lebih suka semur dan opor ayam kita. »

Tarpin senyum ringan nyaris tak kentara dalam mengingat perilaku Mas Syakuran. Namun, ingatannya yang kian tambah kental adalah yang berkenaan dengan kisah-kisah dalam ketujuh berita yang barusan disimaknya. Meskipun kejadian dan tokoh-tokohnya berbeda-beda, namun persoalannya yang mendasar pada hakekatnya adalah sama saja. Yakni gambaran mendasar tentang orang atau orang-orang yang kesepian namun benaknya ditemani bahkan dikerumuni rupa-rupa mahkluk hidup yang tak sudi beranjak pisah.

« Tokoh Jafar dalam berita dramatis karena lama terpisah dengan bini itu adalah bukan baru sekarang terjadi, » pikir Tarpin seraya menyegar ingatan selama sepanjang karirnya sebagai pemerhati sekaligus penyelidik selama ini. Demikian pula pasal ke-terpisah-an dari orang-orang berpasangan atau berlaki-bini itu pun bisa macam-macam pula. Keterpisahan tempat tinggal, jauh maupun relatif dekat, bahkan sekalipun serumah tapi kamar tidur terpisah. Bisa keterpisahan selagi sama sama hidup, bisa yang salah satunya sudah lebih dahulu meninggal dunia. Bisa keterpisahan sementara karena gonta-ganti pasangan. Ataupun juga keterpisahan sebentar-sebentar, ketika sang lelaki atau sang perempuan bertingkah tak ubahnya seperti kupu-kupu – dari satu ke lain tempat ; dari satu ke lain bunga yang disenangi hatinya saja.

« Banyak orang tak kuasa menghadapi ujian, » kata Tarpin melanjutkan, tapi hanya dalam hatinya saja. Dalam suasana demikian, bisa saja jika untuk mengisi waktu atau keisengan, mereka berpikir macam-macam. Seperti bersyak wasangka, mereka-reka gambar gambaran yang memenuhi benak atau pelupuk mata. Atau, sebagai pelarian, memanfaatkan gambar atau foto bugil majalah dan tayangan televisi atau kaset video porno.

« Baik gambar di terbitan majalah maupun gambar hidup dalam film-film biru tujuannya memang untuk menarik perhatian dan membangkitkan nafsu…, » ujarnya lebih lanjut, masih hanya di dalam hati. Iya, benarlah. Juga macam-macamlah, tergantung orang dengan jalinan kisahnya masing-masing. Seperti dalam berita « Muka biru gara-gara film biru » itu, mengenai : seorang perempuan datang ke kantor polisi, mengadu telah dipukuli oleh lelakinya sendiri yang menggagahinya, sekalipun lagi haid, dan memperlakukannya seperti budak belian atau binatang. Kelakuan kasarnya itu semata-mata demi pelampiasan nafsu seksualnya belaka. Juga, seperti dalam berita «Pelaiboi ngoboi terjerat stagen» itu : Seorang lelaki bertubuh kekar, ganteng, ditemukan mati dalam gantungan dari stagen. Gara-gara seorang Tante Girang yang pencemburu. Sesudah menghabiskan jutaan dollar Singapura dalam foya-foya dan mengisi dompet sang Jantan, kemudian mengetahui bahwa sang pacar masih mau main dengan perempuan lain. Merasa tertipu dan cemburu berat, dibunuhnya sang lelaki bintang hiburannya itu. Dicabut nyawanya bukan oleh tangannya sendiri, melainkan menggunakan tangan-tangan kaum preman bayaran.

« Kesepian atau rasa kehampaan memang ujian yang kadang tidak tertahankan, kalau tidak memiliki kekuat-tangguhan iman, » bisik Tarpin seterusnya. Seraya mengingat tokoh dalam berita « Lamunan basah bikin payah bocah » dan «Anak kandung celaka 12 tahun dikurung ». Kisah sekitar tokoh tokoh lelaki yang terpisah bini lantaran tinggal berjauhan, ditinggalkan pergi atau meninggal dunia. Dalam masa membujang atau menduda sang lelaki, sekalipun sudah jadi bapak, tak mampu menahan goda. Selain lantaran yang mendasar berupa dorongan nafsu birahinya yang besar, juga dalam keisengan jadi pencandu gambar atau foto perempuan cantik dan film-film biru. Film porno yang bukan saja memperagakan kecantikan perempuan, melainkan juga gambaran hidup persetubuhan yang keterlaluan. Keterlaluan kevulgarannya dari pasangan segala usia : nenek-kakek sampai bocah remaja bahkan bocah-bocah yang masih balita. Bayangkan saja !

« Begitulah yang terjadi, » desis Tarpin sembari menghela nafas panjang dan memejamkan mata, kedua belah tapak tangannya berubah tinju yang kukuh dalam menahan kegemasannya. « Seorang bapak menjelang lansia tega-teganya memperkosa berulang-kali anak gadisnya sendiri…! »

Seketika, seperti masih penasaran, Tarpin membuka kembali halaman koran yang memuat berita : « Gara-gara gambar, nama tercemar. Sang lelaki yang melakukan kejahatan seksual terhadap anaknya sendiri itu dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. » ***

Ilustrasi foto A.Kohar Ibrahim, Batam.


Link: http://16j42.multiply.com

Selagi Mencari Si Rambut Pirang


Kisah Pendek
Oleh : A. Kohar Ibrahim


SORE hari itu, begitu turun dari taksi didampingi dua lelaki yang juga berpakaian preman namun nampak sigap-tegap, Tarpin bergegas melangkah masuk Hotel Pas, naik ke tingkat satu cepat cepat layaknya melompat, menuju Kamar 7. Pintu kamar sudah terbuka , dibukakan oleh manajer hotel, khusus untuknya. Untuk yang kedua kalinya hari itu.

Berbeda dengan kunjungannya yang pertama kali sekitar jam 5 pagi, ketika penghuni Kamar 7 bernama Johan ditemukan pingsan kena pukul babak belur, kali ini Tarpin dan dua orang pendampingnya cepat keluar kembali. Berpesan pada sang manager agar jangan seorangpun memasuki kamar itu tanpa izin yang berwajib, teriring pertanyaan : « Patung garuda di atas mejatulis itu milik penghuni kamar ini, kan ? »

« Iya, Pak, » jawab Iwan sang manajer. « Juga sejumlah VCD di dalam laci meja itu. Semua barang-barangnya masih utuh.»

« Ehm, makasih, » ujar Tarpin sembari senyum kecil mengengar kata-kata terakhir. « Hah, masih utuh ? » tanyanya, tapi hanya dalam hati saja. Dan dia segera turun ke bawah. Di depan pintu keluar, dua orang pendampingnya melanjutkan langkah sigap-tegapnya, sedangkan Tarpin beranjak menuju ruang besar bar dan secara kebetulan meja dan kursi favoritnya yang terletak di pojokan kosong. Ketika seorang pelayan menghampirinya, dia memesan minuman seperti biasanya : « Kopi tubruk. Persediaannya belum habis ? »

« Masih banyak, Pak . Gak usah kuatir, Bos malah sudah beli se-pak lagi. »

« Makasih, makasih. Eh, bilang terimakasih saya pada Bos, yah ? » ujar Tarpin, terduduk, meletakkan kedua sikunya di atas meja dan dengan gerakan seperti orang mengambil air wudhu mengusap muka seraya mengucap : « Astagafirullah… »

Seketika terbayang di kelopak matanya sosok lelaki Eropa yang kekar dan cukup tampan mirip aktor Rambo Stalonne yang di pagi buta tadi cekakaran di dalam Kamar 7 yang dihuninya. Masih segar sekali dalam ingatannya, seminggu lalu, di hari Minggu yang cerah. Disaksikannya sendiri bagaimana lelaki itu begitu riang dan malah menunjukkan kebanggaan masuk hotel itu dengan didampingi dua orang gadis. Gadis gadis yang bukan saja masih muda muda melainkan juga cantik, mengenakan pakaian sporti berambut hitam panjang berkulit putih bersih berwajah cantik seperti mojang Parahiyangan.

« Bukan seperti mojang Parahiyangan, » desisnya, seperti lagi berdialog interaktif dengan kenangannya sendiri. « Gadis-gadis cantik itu memang orang Sunda. » Lantas ingatannya membenarkan, ketika mereka duduk mengitari meja yang hanya selang semeja dari mejanya sendiri, suara mereka berlogat Sunda baik dalam memesan minuman Teh Obeng maupun obrolan sekitar penyanyi kondang Mylene Farmer. « Geulis teuing, Is… » ujar gadis pertama sembari memeperlihatkan CD Dance Remixes yang dikeluarkan dari dalam tasnya, seraya senyum melirik lelaki Eropa yang menatapnya seperti terhipnotis saja. « Nuhun banget, kang Johan. Dank U…» Dan yang tertuju senyum tersipu, senang bilang: “Only for you, Dewi.” Untuknya sorangan? Seketika gadis kedua nyeletuk cemburu: “Et pour moi, mana?” Dijawab kontan oleh sang akang Johan sembari mengeluarkan sebuah CD dari dalam tas warna hitamnya yang cukup besar: “Voilà pour toi, cherie: La Sensualité de Axel Red…” Dan si gadis penerima mendadak beranjak girang layaknya mau melompat menubruk-cium sang pemberi, tapi seketika itu pula dia kembali ingat diri, tengok kanan kiri, lantas hanya senyum menancap pandang seraya mengucap: “Merçi beaucoup, Mijnheer Johan Hendrik! Gue seneng banget, deh.” Dan si lelaki yang ternyata bernama Johan Hendrik itu hanya bilang bernada girang pula: “Pour toi seul, Mirah Isniah çayang. Untukmu saja, yah?” Dan meneruskan dengan menggumamkan nada lagu Sensualité, seraya beranjak mengajak kedua gadis itu keluar dari ruang bar menaiki tingkat pertama masuk ke Kamar 7.

Sekali lagi, seperti seketika itu, Tarpin mengusap mukanya dengan kedua belah tapaktangan seperti lagi mengambil air wudhu. Sekalipun kelopak matanya tertutup, namun mata hati dan pikiran terutama sekali imajinasinya menayangkan berbagai gambaran yang memungkinkan. Segala kemungkinan adegan jika seorang lelaki ganteng memasuki kamar hotel didampingi dua gadis jelita. Apa pula keduanya sekalipun mengenakan pakaian sporti namun cukuplah seksi. Dan apalagi kedua gadis itu nampaknya anggota fans penyanyi kondang internasional yang masing masing bernama Mylene Farmer dan Axel Red.

“Bukan nampaknya nge-fans Mylene dan Axel Red,” bisik hatinya, membantah sekaligus menegaskan daya ingat benaknya. “Keduanya memang fanatik kedua penyanyi senso-romantika itu, yang dalam penampilannya di panggung konser sebagai “lady in red” yang rambut pirang panjangnya beruntai-untai bak nyala api tak ubahnya seperti “birds of fire” alias burung feniks lambang kegairah-abadian.”

Rupanya semua indikasi itu erat berkaitan dengan pesan yang diberikan Mas Syakuran sesaat menjelang keberangkatannya ke mancanegara. Di Bandara Hang Nadim dia bilang dengan nada tenang perlahan: “Pin, cepat pulang. Di dalam kotak surat ada amplop sampul coklat dari Belgia. Isinya sudah aku nikmati. Karena keberangkatanku, aku minta bantuanmu untuk turut mengenal si Belanda ganteng itu.” Memang benar, sesampainya di rumah dia temukan amplop warna coklat. Di dalamnya ada sekian lembar dolar Amerika dan selembar kertas pembungkus coklat made in Belgia: Côte d’Or. “Sialan,” umpatnya saat itu, “sudah dilahapnya semua, hanya ninggalin bungkusannya doang”. Akan tetapi, ada yang amat bermakna tertera di bungkusan itu, berupa indikasi: Antwerpen-Brussel-Paris. Indikasi yang membawanya ke pintu observasi lebih jauh. Antara lain justeru berkenaan dengan si ganteng yang sebenarnya bukan wong Belanda, melainkan orang Belgia berbahasa Belanda alias Vlaams. Johan Hendrik yang berbapak Belgia beribu Perancis itu penggemar musik dan film, pemilik klab-studio Video Universalia dan sering kelayaban di mancanegara menamakan diri sebagai sineas pemburu artis muda berbakat hebat dan khas. “Pemburu artis muda berbakat khas? „ tanyanya sembari mengerutkan kening, menghenyakkan diri di kursi sofa.

Kini, untuk kesekian kalinya, Tarpin mengusap muka dengan keduabelah tapak tangan seperti lagi mengambil air wudhu, menghela nafas panjang seraya mengingat akan obrolan Johan dengan kedua gadis penggemar lagu-lagu penyanyi Mylane Farmer dan Axel Red. Yang masing masing ada kesamaan dan kekhasannya, yang rupanya amat memikat Dewi dan Mirah – pendamping si ganteng Rambo Johan Hendrik itu. Yang paling menonjol adalah penampilan sekaligus lagu-lagu ke-eros-sensual-romantikaan mereka. Dan kedua-duanya berambut pirang bahkan kemerah-merahan menyala gairah. Terutama sekali ketika masing masing membawakan lagu „Beyond my control“ dan „Sensualité“. Akan tetapi, meskipun begitu, masih ada keragu-raguan ketika dari California Mas Syakuran menelponnya, bahwa si Rambo Belgia itu memang sedang memburu calon calon artis untuk berperan sebagai tokoh tokoh film berambut pirang kayak Mylene dan Red. “Tapi saya saksikan sendiri, si Rambo bersama dua gadis memang manis tapi rambutnya hitam legam,” jelasnya dengan nada serius. Tapi dapat balasan dengan nada tawa: “Pin, soal warna rambut itu mah gampang dirobah. Dicelup sebentar aja, dah ganti warna. Coba simak foto ini.” Seketika menyimak foto di layar kaca mini HP itu, Tarpin membelalakkan mata seraya menggelengkan kepala. Lebih-lebih lagi tatkala teriring suara penegasan: “Inilah Dewi dan Mirah itu. Tanpa proses penyeleksian, mereka akan langsung memegang peran dalam film maupun tampil di karaoke Florida, New York dan Texas masing masing sebagai Mylene dan Red. Nyaho?”

Ketika beberapa hari yang lalu Tarpin dikonfirmasi oleh Syakuran mengenai perburuan gadis gadis berambut pirang, dia tegaskan setegas-tegasnya dengan nada seperti lagi bersumpah di depan pengadilan: “Demi Allah, si Rambo sudah beberapa hari ini sering sendirian saja.”

“Great..._” sambut suara HP dari tanah seberang dengan nada girang. Tarpin senyum nyaris tawa kecil terkitik ujar kata Syakuran berbahasa Ingris Amerika. Kok bisa begitu cepat adaptasinya, yah? Tapi belum sempat bertanya, sudah terdengar susulan suara: “Mister Rambo Belgia itu akan segera nyusul dewi dan bidadarinya yang sudah sampai di States.”

“Wah, celaka!” jelas Tarpin sore hari ini, ketika dikonfirmasi sekali lagi oleh Mas Syakuran dari California. “Sang Rambo Johan Hendrik kini masih dirawat berat di Rumah Sakit. Saya khawatir…”

“Aku dah dapat khabar soal ini, Pin. Mungkin sebabnya apakah dia coba-coba menggaet gadis yang kebetulan puteri pejabat setempat, ataukah belum membayar apa yang dijanjikannya pada para pengawal Dewi dan Mirah dari Jawa Barat sana. Para pengawal itu juga jawara yang bisa memperlihatkan kekhasannya. Mereka juga aktor aktor pemegang peran penting. Dan yang terpenting, jaga jangan sampai sang Rambo berpulang... Itu bisa menggagalkan proyek film Eros Eksotikanya nanti.”

“Wah! Kalau soal nyawa, itu mah diluar kesanggupanku!” ujar Tarpin memprotes, tapi tak kesempatan keluar dari tenggorokannya. Tercenung menung sebentar, mencoba memaknai ujar kata Mas Syakuran. Terutama sekali mengenai jenis perfilman yang dimaksudkan, itu tentu saja hanya penyebutan eksentrik dari taktik-trik industri pornografi yang di Amerika sedang marak-maraknya. Akan halnya di sini sendiri? Bukankah juga sudah ada yang ketularan dengan memproduksi film sejenis berjudul “Batam Bara Asmara”. Ah, apa hubungannya dengan sang pemburu gadis berambut pirang yang menyala kemerah-merahan? ***

Catatan:
Kispen : kisah pendek, Cerpen: cerita pendek. Ilustrasi foto penulis A.Kohar Ibrahim di Batam.


Link: http://16j42.multiply.com

Persoalan Yang Jadi Persoalan


Kisah Pendek
Oleh : A. Kohar Ibrahim


Tarpin memasuki ruang bar Hotel Pas itu tak sekalem seperti biasanya, melainkan agak tergesa-gesa tak ubahnya orang yang mengejar bayangan yang cepat hengkang. Padahal yang dijadikan sasarannya bukanlah gangster berbahaya atau sosok penjahat lainnya, melainkan hanya meja di sudut dekat jendela sana. Dari mana dia bisa menggunakan kursi untuk duduk santai sembari melirik seputar dengan leluasa dan menghirup minuman kesenangan yang dipesannya.

« Kopi tubruk, » jawabnya dengan nada datar seperti tak begitu peduli terhadap pelayan yang dengan ramah menghampirinya.

« Makasih, Pak, » ujar sang pelayan, tetap dengan nada ramah. Meski ingin bercakap-cakap sedikit, tapi ditunda mengingat gelagatnya tak begitu menguntungkan. Kesan sang pelayan juga sama seperti sang penjaga pintu ketika dia masuk bergegas. Nyaris dia tak mendengar suara ucapan selamat siang atau selamat selamat lainnya yang biasanya diucapkan Tarpin.

Tidak seperti biasanya, Tarpin juga alpa mengucapkan terima kasih ketika tas kopi tubruk yang dipesannya dihidangkan sang pelayan. Hanya menggumam sembari menambahkan gula ke cangkir yang segera dicicipinya sedikit. Hanya untuk merasakan kelezat-harumannya.

« Sompret, » bisiknya dengan nada mengeluh – bukan terhadap minuman kesukaannya, melainkan pada langit mendung dan hujan gerimis serta ragam macam persoalan yang mengerumuni benaknya. Persoalan-persoalan yang bermunculan saling kejar mengejar sepertinya tak mau berkesudahan.

« Seperti bayang bayangan mengejar kenyataan saja, » katanya keras, tapi suaranya terbendung di tenggorokan. Sekiranya melejit keluar pasti turut membingungkan orang-orang di bar dan seputarnya. Pasalnya, sekalipun pada umumnya langganan bar hotel itu tidak kenal siapa dia, namun satu dua orang pastilah tahu siapa Tarpin. Meski sepitas kilas tak ada ciri khas yang menonjol pada penampilan dirinya. Tinggi dan berat badannya sedang-sedang saja. Hanya perutnya yang agak progresip. Rambut hitamnya yang tadinya lebat dan ikal masih cukup lebat. Wajahnya yang selagi muda potongan Cak Nun masih cukup tampan. Dengan sepasang mata beralis hitam cukup lebat dan berhidung yang tak pesek pun tak mancung. Kemudahan tersenyumnya jadi penambah kesegaran wajah.

Memang iya lelaki yang menjelang lansia namun masih nampak awet sekali itu begitulah adanya. Sekalipun banyak pengalaman dan tabungan pengetahuannya syak-gudang, namun dia bukan type orang yang suka sesumbar. Keluarga dan orang-orang terdekatnya mengenalnya sebagai orang pendiam. Lebih banyak berpikir dari pada bicara.

Akan tetapi apakah benar Tarpin orangnya pendiam yang lebih suka berpikir dari pada bicara ? Hanya orang terdekat dan paling akrab yang bisa menambahkan : Si Pipin suka melamun.

« Seperti bayang mengejar kenyataan, » desisnya perlahan. Ulangnya malah : « Seperti bayangan mengejar bayang-bayang pula… »

Kali ini Tarpin berubah wajah kian cerah kerna seketika bersimbah cahya. Berkas cahya menembus mega mendung di angkasa tinggi. Setitik cahya menerangi relung hati dan benaknya. Dia tersenyum lantaran teringat masa bocah yang oleh teman-teman terdekatnya dijuluki „tukang nguping“ atau „tukang intip“. Bukan dalam artian negatip, tapi sebaliknyalah.

Pasalnya dia selalu ingin tahu apa saja yang dianggapnya layak diketahui. Bukan hanya perihal kebocahan dengan segala segi kebocahan, melainkan juga sudah penasaran pada persoalan orang dewasa dan lansia. Misalnya saja dia penasaran kenapa bocah suka ngompol dan lansia bisa jadi beser. Dan tak terbilang rasa penasaran lainnya dalam seluk beluk kehidupannya kemudian. Seperti kenapa orang suka bohong dan suka kaya. Kenapa orang suka maling dan jadi maling. Kenapa malah ada maling dijaga dan ada pula penjaga maling? Dan kenapa mesti ada Tentara. Dan kenapa mesti ada Polisi. Bahkan ada pula Polisi-nya Polisi?

« Jadi memang benar apa yang kudongengkan pada kanca-koncoku dulu, » bisik Tarpin sembari menghirup kopi tubruknya. Dilemparnya pandang jauh-jauh ke luar – sampai ujung pandang dermaga Batam yang kini nampak mulai cerah kembali. Sepertinya dia lagi bercerita di hadapan hadirin pilihannya. « Saya bilang : ada orang yang tak terpisahkan dengan bayangannya sendiri. Dia bisa diikuti bahkan mengikuti bayangannya sendiri. Bahkan bayang bayangannya bisa saling mengikuti atau diikuti. Bisa dikejar atau berkejar-kejaran ! »

« Dan bayangan itu pun bisa kita injak-injak, » Tarpin kini mesem sendiri, sembari menghentakkan telapak kaki bersepatu kulitnya menirukan seorang rekan yang suatu ketika meladeninya ngobrol. Di hadapannya. Di situ. Di pojok ruang besar bar Hotel Pas berbintang tiga itu. Masih terngiang-ngiang nada jenaka Mas Syakuran teman bicaranya itu ketika menegaskan : « Tiap kali mentari di ubun-ubun, kita injak-injaklah bayangan kita sendiri. Nah ! »

Maka tawa ngakakpun meledak.

Tapi itu hanyalah sepotong kenangan riang yang kini rupanya sudah jadi sejarah – paling tidak hanyalah tinggal bayang-bayang belaka ?

Rupanya zaman memang sudah berubah atau mengarah ke perubahan yang signifikan. Suatu pertanda yang memperbedakannya dengan zaman yang silam. Dalam mana banyak orang bertingkah-ulah bukan seperti manusia yang melainkan tak ubahnya seperti siluman. Selain penampilannya sebagai manusia namun bisa berubah jadi binatang licik-lihai bahkan buas. Orang yang nampaknya sederhana dan alim bisa jadi kaya raya, serakah dan lalim. Sekalipun juga bisa terjadi perubahan yang sebaliknya : Orang kuat jadi orang lemah atau impotent ! Bakan bisa jadi penghuni kuburan !

Setelah menikmati regukan kopi tubruknya yang terakhir, sejenak Tarpin termangu. Kedua belah tapak tangannya menunjang dagu, hanya untuk menghindari terlalu sering menggelengkan kepala. Lantaran benaknya dikerumuni pikiran dan bayangan yang aneka ragam. Tentang kasus-kasus anak jalanan yang melakukan tindak kriminal. Tentang trafiking. Tentang orang-orang biasa yang berdosa dan juga pejabat yang menyalahgunakan jabatannya. Semua itu kadang jelas kadang berbaur kadang samar-samar saja dalam kenangan atau bayangannya. Bayangan dan kenyataan yang begitu jelas tapi juga bisa bias.

Karena, seperti contohnya Mas Syakuran yang cukup dikenalnya itu: siapa sangka siapa nyana kini jadi penghuni hotel prodeo?

“Zaman memang berubah – sekurang-kurangnya menuju perubahan signifikan,” dengusnya sembari melemparkan pandang ke ujung bandara Batam, seolah-olah meyakinkan diri sendiri. Rupanya apa yang dibacanya di koran-koran seperti di Batam Pos dan apa yang didengarnya dari umum dan siaran radio-tv belakangan ini memang merupakan pertanda nyata akan semakin seringnya kaum kriminal tertangkap lantas meringkuk di balik trali besi.

“Met sore, Pin. Apa khabar, neh?” sapa seseorang teriring sentuhan di bahu kirinya. Entah bagaimana dia tak sempat memperhatikan sang penyapa yang mengenakan pakaian komplit ala orang Eropah itu sudah ada di situ. Tapi nada suaranya dia kenal sekali, belum lagi sempat dijawabnya sudah berkelanjutan: “Mungkin ini permintaanku penghabisan. Mau kau ngantarku ke Hang Nadim? Aku akan segera terbang ke States. Menyusul puteraku yang di California. Ok? Kita berangkat sekarang.“

Tarpin mengaku dalam hatinya dia merasa agak kaget campur gugup serta penasaran: Mas Syakur mantan kolaborator atasannya itu telah bebas atau hendak kabur? Tapi pertanyaan ini hanya bisa menggelitik hati dan pikirannya, tak mampu keluar lewat mulutnya.

Yang pasti, tidak perlu diherankanlah kalau permohonan dari kenalan lamanya itu kontan dikabulkannya. Meski ketika beranjak dari Hotel Pas dan selama perjalanan dengan kendaraan mobil sedan warna hitam menuju bandara udara Hang Nadim yang tersyohor itu, nyaris tak banyak percakapan. Kebanyakan keduanya tenggelam di alam benaknya masing-masing: menguntai kisah-kisah nyata teriring bayang bayangan selaras daya bayangnya sendiri. *** (Dari Majalah Gema N° 1, AKI).

Catatan: „Persoalan Yang Jadi Persoalan“. Kispen atau kisah pendek, semacam karya prosa seperti cerpen (cerita pendek) ini adalah rangkaian karya tulis A.Kohar Ibrahim sekitar atau yang berkaitan dengan Batam khususnya, Kepri umumnya.


Kepulauan Riau
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help