Group's posts with tag: esaibudaya

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.

 

Budaya Kepri Yang Lestari

 

Tumbuh Berkembang Dalam Gerak Juang

 

 

Esai Budaya

Oleh A. Kohar Ibrahim

http://16j42.multiply.com

http://painting.multiply.com/tag/abekreasi

 

*

(I) 

TOUTES les cultures sont liées les unes aux autres ; nulle n’est unique et pure, toutes sont hybrides, hétérogènes, extraordinairement différenciées et non monolithiques. Demikian tulis Edward Saïd, dalam makalahnya berjudul : « Culture et Impérialisme ». In Le Grand Soir Info 1.07.2007. Bahwa : « Semua Kebudayaan adalah saling berhubungan satu sama lain ; tak satupun yang unik dan murni, semua dalam ragam-macam, bercampur-bauran, memiliki ciri keragaman yang luarbiasa dan non-monolitis. »

 

Benar memang benar dengan mudah saya membenarkan pendapat Edward Said tersebut. Baik dari pengetahuan yang saya peroleh secara tak langsung maupun yang secara langsung berupa pengalaman hidup sendiri, saya membenarkan kebenarannya yang hakiki. Sebagaimana juga saya membenarkan opini intelektual lainnya, yakni Mahmoud Darwich, berkenaan dengan Warisan Peradaban Umat Manusia. Yakni, bahwa « Warisan peradaban ummat manusia adalah satu : diperkaya dalam suatu proses yang panjang. »  Opini mana saya jadikan salah satu sitiran andalan ketika menyusun makalah « Sekitar Tempuling » (Telaah Buku Kumpulan Sajak « Tempuling » Rida K Liamsi, Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004). Juga manakala kami – saya dan Lisya Anggraini menyusun makalah yang kemudian pun dijadikan buku berjudul « Kepri Pulau Cinta Kasih » (Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, 2006).

 

Tanpa pemahaman akan kesepahaman yang serupa baik seperti yang diungkapkan Edward Said maupun Mahmoud Darwich itu, maka sulitlah kiranya saya bisa menyusun berkas-berkas naskah esai seperti yang tersunting menjadi kedua buku tersebut di atas. Karena pemahaman itu sarat akan gerak dinamika hidup dan kehidupan budaya ummat manusia sejak zaman awal muawalnya hingga zaman kekinian. Dengan itu pun, bisalah memudahkan pemahaman baik berawal dari yang lokal, yang nasional, yang regional sampai yang internasional atau global. Baik berawal dari satu segi atau bagian ke segi-segi atau bagian-nagian kehidupan lainnya hingga menyeluruh keseluruhan. Maupun dengan cara-gaya kebalikannya : dari yang umum, yang universal, ke yang khusus atau ke bagian atau bagian-bagiannya.

 

Begitulah, kongkretnya, ketika berhadapan pada perihal sekaligus persoalan Budaya Melayu di Kepulauan Riau (Kepri). Terpikirlah antara lain : apa dan dari mana datangnya ? Apakah muncul begitu saja dari dasar laut ala Tsunami ataukah jatuh dari langit ?  Tapi ternyata tidak berasal muasal secara mendadak sontak baik dari dasar laut pun bukan dari langit. Melainkan kelompok penduduk yang datang dari Asia Selatan ke Nusantara, bersama kebudayaannya sekalian, dalam masa gelombang perpindahan penduduk sekitar 2500 SM. Sejak itu, dapat diperkirakan, akan ragam macam penduduk asal kawasan lainnya yang juga berdatangan mendiami pulau dan kepulauan Nusantara lainnya. Juga dengan bawaan budayanya masing-masing – dalam mana termasuk salah satu elemen penting, jika bukan yang essensil, yakni bahasanya masing-masing pula.

 

Dengan demikian, semenjak terjadinya gelombang perpindahan penduduk 2500 SM hingga Abad Ke-21 M atau zaman modern ini, perkembangan peradaban manusia di kawasan Nusantara ini menjadi begitu luarbiasa. Selaras dinamika inter-relasi, inter-komunikasi, baik secara osmosia, silang-selang-seling maupun taut-bertautan hidup kehidupan di berbagai bidang adanya.

 

Dalam hal Orang Melayu yang menjadi topik kita ini, akan perihalnya, pikiran saja tertuju pada salah sebuah karya puisi sasterawan besar Malaysia, Usman Awang, berjudul « Melayu » (Cekakhafi.com 28/6/07). Sajak yang menggemparkan ini layak disimak dengan seksama. Karena kandungan isi maupun cara-gaya kreasinya yang fenomenal sekaligus monumental. Karenanya pula mampu menggugah sekaligus mengundang gairah gugatan dari para pembacanya yang ragam macam adanya..

 

Cobalah baris-baris pertamanya yang menggoreskan  Melayu itu. « Melayu itu orang yang bijaksana, » tulis Usman Awang. « Nakalnya bersalam jenaka / Budi bahasanya tidak terkira / Kurang ajarnya tetap santun / Jika menipu pun masih bersopan / Bila mengampu bijak beralas tangan ».

 

Baris-baris kata puitis dalam bait selanjutnya pun cukup bernas, pedas lagi manis : « Melayu itu berani jika bersalah / Kecut takut kerana benar / Janji simpan di perut / Selalu pecah di mulut / Biar mati adat / Jangan mati anak. »

 

Bait selanjutnya kian bermakna penting baik isian pesan sekalian kesan tergoreskan, bahwasanya : « Melayu di Tanah Semenanjung luas maknanya : / Jawa itu Melayu, Bugis itu Melayu / Banjar juga disebut Melayu / Minangkabau memang Melayu / Jakun dan Sakai asli Melayu / Mamak dan Malbari serap ke Melayu / Malah mua’alaf bertakrif Melayu … »

 

Kemudian susul menyusul bait-bait yang melukiskan kesejarahan Melayu sebagai « sang pengembara lautan » yang « melorongkan jalur sejarah zaman » ;  akan kekayaan falsafahnya dengan « kias kata bidal pusaka, akar budi bersulamkan daya, gedung akal laut bicara » ; akan  kemalangannya yang « kuat bersorak, terlalu ghairah pesta temasya, sedangkan kampung telah tergadai, sawah sejalur tinggal sejengkal, tanah sebidang mudah terjual ». Sedangkan yang berkenaan dengan pendidikan, Usman Awang menggoreskan Melayu yang « walaupun sudah mengenal universiti », namun « masih berdagang di rumah sendiri. » Dan watak-perilakunya? « Berkelahi cara Melayu / Menikam dengan pantun / Menyanggah dengan senyum / Marahnya dengan diam / Merendah bukan menyembah / Meninggi bukan melonjak. » Bahwasanya : « Watak Melayu menolak permusuhan / Setia dan sabar tiada sempadan / Tapi jika marah tak nampak telinga / Musuh dicari ke lubang cancing / Tak dapat tanduk telinga dijinjing / Maruah dan agama dihina jangan / Hebat amuknya tak kenal lawan ». Lantas : « Berdamai cara Melayu indah sekali / Sulaturahim hati yang murni / Maaf diungkap senantiasa bersahut / Tangan diulur senantiasa bersambut / Luka pun tidak lagi berparut ». Aduhai : « Baiknya hati Melayu itu tak terbandingkan / Selagi yang ada sanggup diberikan. »

 

Last but not least – sungguh kuat-hebat kandungan pesan sekaligus keterkesanannya : Pertanyaan sarat akan jawaban yang bermakna mendalam dan luas nyaris tanpa batas – tanpa perbatasan wilayah, karena memang berkenaan dengan manusia :

 

« Bagaimanakah Melayu abad dua puluh satu / Masihkan tunduk tersipu-sipu ? / Jangan takut melanggar pantang / Jika pantang menghalang kemajuan ; / Jangan segan menentang larangan / Jika yakin kepada kebenaran ; / Jangan malu mengucapkan keyakinan / Jika percaya kepada keadilan / Jadilah bangsa yang bijaksana / Memegang tali timba / Memiliki ekonomi mencipta budaya ».

 

Hasil salah satu kreasi puisi Usman Awang itu merupakan salah sebuah pertanda zaman dalam sejarah kesusasteraan Melayu pada umumnya. Bukti keulungan bahasa sekaligus cara-gaya ekspresinya dalam menyajikan kandungan isi dengan dukungan bentuknya yang harmonis. Pesan dan kesannya yang membahana, mengingatkan saya pada salah sebuah karya puisi Perancis berjudul « Kepada Pembaca » gubahan penyair Charles Baudelair. Saya sitir sekedar bahan banding, sebagai berikut :

 

Kepada Pembaca

 

Kedunguan, kesalahan, dosa dan kekikiran,

Menghuni jiwa kita dan menggeluti raga kita,

Dan menjadikannya santapan penyesalan halus kita,

Seperti pengemis memberi makan kaum terhina mereka.

Dosa-dosa kita pembandel, ketobatan kita pengecut ;

Kita bayar sendiri dengan mahalnya pengakuan kita,

Dan kita pulang dengan girang di lorong berlumpur

Percaya dengan tangis pura-pura bisa menghapus dosa.

Di telinga keburukan adalah Setan Trismegis

Yang melobang lama lama jiwa senang kita,

Dan logam adi kemauan kita

Dan semua diuapkan oleh ahli kimia ini.

Adalah iblis pemegang talikendali kita!

Pada benda-benda menjijikkan kita temukan daya tarik ;

Tiap hari tiap tapak kita turun ke Neraka,

Tanpa takut melalui kegelapan bau busuk.

Demikian serupa sorang miskin senggama dan makan

Payudara korban dari pelacur tua,

Kita mau sambil lalu kenikmatan selingkuh

Yang kita peras sekeras-kerasnya bak jeruk rapuh.

Berdesakan, berkerumunan, bak sejuta ulat-jahat,

Dalam otak kita gentayangan gerombolan Iblis,

Dan, saat kita menarik nafas, Kematian di ruang jantung,

Turunlah, sungai siluman, dengan gerutu menulikan.

Jika perkosaan, racun, belati, kebakaran,

Belum lagi dihias oleh gambaran mereka yang menyenangkan

Kain setramin biasa nasib kita yang menyedihkan

Hal itu karena jiwa kita, aduhai! Tak cukup tangguh.

Tetapi di antara para serigala, macan tutul, ajing buruan,

Monyet, kalajengking, gagak, ular,

Raksasa melengking-lengking, berteriak-teriak,  merangkak,

Dalam kandang memalukan sifat-sifat buruk kita,

Ada satu yang lebih jelek, lebih jahat, lebih kejam-keji!

Meski ia tak mendorong tindakan kasar pun tidak teriak keras,

Ia hanya menjadikan tanah debu

Dan dengan sekali penguapan kan menelan dunia ;

Itulah Kejenuh-jengkelan! – mata menanggung tangisan terpaksa,

Ia mimpikan panggung tiang-gantungan sembari hisap houka.

Dikau mengenalnya, pembaca, raksasa peka ini,

-- Pembaca munafik, -- se sama ku, -- saudara ku!

 

Sajak itu saya Indonesiakan dari bahasa aslinya, Perancis, dengan judul: «Au Lecteur », merupakan Kata Pengantar dari  buku Baudelaire yang masyhur: “Les Fleurs du Mal” (1857). Salah sebuah kreasi puisi yang pernah menggemparkan  hingga sampai ke Pengadilan Imperium Perancis itu disiar pertama kali di Kepri oleh Majalah Budaya “Dua Belas” nomor Februari 2006. Termaktub dalam esai “Tiga Pendekar Puisi Perancis: Hugo – Baudelaire – Rimbaud”.

*

 

 (II)

 

KEDUA karya puisi baik yang dari Barat (Baudelaire) maupun yang dari Timur (Usman Awang) tersebut di atas itu saya anggap merupakan pertanda utama, fenomenal sekaligus monumental dalam kesamaan menyanyikan lagu manusia atau kemanusiaan yang universal ; kendati dengan kekhasan kandungan nada irama dan nuansanya masing-masing. Namun, satu hal yang saya hendak garisbawahi adalah betapa makna perpuisian yang mampu mengungkap-angkat sekaligus mengumandangkan kejiwaan bangsa-bangsa manusia di jagad alam raya. Hal mana hanya merupakan bukti kelayak-selarasan awal-mula tumbuh dan perkembangannya dengan keberadaan ummat manusia. Semenjak diekspresikan secara lisan dan selanjutnya secara tulisan, dalam ragam macam bentuknya.

 

Oleh karena itu, wajarlah jika kerap kali terdengar gema bahkan suara santar dari kaum cerdik pintar, khususnya para penyair sendiri, yang menyatakan kepeduliannya akan maju-mundurnya alam perpuisian yang digelutinya. Hal mana hanya membuktikan gerak dinamika hidup dan kehidupan masyarakat umumnya, khususnya kehidupan kesusastraan, dan lebih khusus lagi : perpuisian. Gerak hidup dan kehidupan yang hakikinya adalah perjuangan di segala bidangnya.

 

Demikianlah, apakah dari dekat ataukah dari kejauhan, belakangan ini adalah pertanda yang menyegarkan suasana alam perpuisian di Dunia Melayu, kongkretnya Riau Kepulauan. Yang mau tak mau juga menyegarkan suasana alam perpusian Indonesia. Jika diingat saling seling silang kait berkaitan sejarahnya baik dalam makna penting Bahasa maupun Kesusastraan. Dengan pelestarian warisan yang baik sekaligus pengembangannya. Makna pemaknaan terpenting dari Pelestarian Warisan tersebut tak lain tak bukan adalah aktivitas-kreativitas kesusastraan – baik dalam bentuk prosa maupun puisi.

 

Salah satu pertanda yang saya maksudkan itu adalah Gelar Puisi Suryatati di Gedung Teater Mini TMI Jakarta, yang justeru mengutarakan judul « Melayukah Aku ? ». Yang nyaris secara spontan mengasosiasikan kita pada karya puisi « Melayu » Usman Awang tersitir di bagian pertama makalah ini – sekalian kepada « Gurindam Duabelas »  Raja Ali Haji.

 

« Ape tande orang Melayu / Tunjuk ajarnye menjadi penentu / Kepada orang tue hendaklah hormat / Supaya hidup jadi selamat » -- demikian baris baris kata puitis bait pertama dari sajak Dra Suryatati Manan yang adalah juga berkedudukan sebagai Wako Tanjungpinang, dalam berita yang dilansir Harian Batam Pos 16 April 2007.   Suatu « Pertunjukan yang sangat bagus » menurut Wakil Bupati Bintan Mastur Taher. Yang selain adanya prestasi sekaligus prestise penyair Tatik, juga tampil para penyair Kepri lainnya seperti Hoesnizar Hood, Teja Alhab, Mastur Taher, Jenewal Muchtar, Machzumi Dawood dan sang bintang jadi cemerlang belakangan ini, yakni : Tusiran Suseno.

 

Maka tak urung, gema kegairah-gembiraan akan terselenggaranya malam pergelaran puisi itu adalah yang datang dari penyair sekaligus budayawan yang juga berfungsi sebagai Ketua Dewan Kesenian Kepri. Khususnya dalam memaknai bentuk pepuisian yang disajikan. Bahwa : « Puisi itu suatu bentuk dari bahasa kejujuran. Dalam puisi itu terlihat ada sesuatu dalam pikiran yang terluahkan dan didedahkan. »

 

Ujar kata Nizar itu jelas dengan nada kebanggaan, nyaris tanpa adanya kekhawatiran jikalau tradisi yang baik jadi pudar bahkan ditinggalkan, seperti dalam pernyataannya tahun 2002. Pada waktu « Parade Puisi Alam Melayu » yang memeriahkan pembukaan Kenduri Seni Melayu Sedunia (KSM) di Batam. Seperti dilaporkan Kompas 27 Oktober 2002.

 

Jika pada waktu itu ada kekhawatiran Nizar, penyair Kepri lainya, Tarmizi yang dijuluki Si Rumah Hitam itu malah dengan lugas menyatakan : « Negeri Melayu ini akan terasa sunyi jika tak ada puisi. Puisi atau sajak bagi orang Melayu sudah menjadi roh pembangkit kekuatan moral dan spiritual. Nilai nilai inilah yang sekarang mulai terlupakan. »

 

Akan tetapi, syukurlah, bahwa sementara itu juga timbul kesedaran, seperti tercermin dari pernyataan penyair Kepri lainnya – Samson Rambah Pasir – yang menjabat Sekretair Dewan Kesenian Batam sekaligus Sekretaris Panitia KSM itu. Bahwasanya, Parade Puisi Alam Melayu yang sengaja ditampilkan pada awal pembukaan KSM itu adalah « Sebagai pencerahan bagi seniman Melayu tentang pokok-pokok pikiran penyair, setidaknya akan membuka wacana baru bagi masyarakat Melayu di mana pun berada. »

 

Bisa saja memang demikian adanya. Seperti halnya, bisa juga pemaknaan Nizar akan perpuisian. Yang baginya, « berpuisi bagi orang-orang Melayu merupakan sebuah alat komunikasi yang sudah ada sejak zaman dahulu. Membaca sajak atau puisi menjadi kekuatan untuk menyampaikan pesan-pesan moral akan apa yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, membaca sajak atau puisi menjadi bagian tak terpisahkan bagi alam Melayu. »

 

Bisa saja, seperti halnya juga ummat manusia lainnya di bagian lain bola bumi ini. Orang India mengenal puisi sejak 1200 tahun SM (3207 tahun lalu).  Orang Tionghoa sudah menikmati puisi mereka sejak1000 tahun SM. Orang Persia sejak 800 tahun SM. Orang Eropa sejak 800 SM sudah memiliki penyair besar bernama Homere. “Dunia lahir, Homere nyanyi,” ungkap Victor Hugo dalam makna memaknai sang penyair legendaris itu dalam hubungan tak terpisahkan dengan dunianya – alam dan masyarakat manusianya.

 

Iya, bisa saja begitu keadaannya. Kebisaan yang bisa jadi kebiasaan atau tradisi yang baik dalam jalur jelujur perjalanan sejarah hidup kehidupan umat manusia. Dalam perjuangan yang panjang untuk menjadi manusia yang lebih manusiawi dengan segala variasi budi-daya-nya yang biasa dan luarbiasa serta tanpa kenal henti sejak zaman dahulu kala. Dalam mana bentuk seni puisi adalah pertandanya yang signifikan.

 

Oleh karena itu, tidaklah begitu mengherankan jikalau adanya kegelisah-galauan sementara kalangan seniman, terutama sekali para penyairnya yang peduli situasi-kondisi tradisi yang baik sepertinya dalam keadaan memprihatinkan. Seperti yang antara lain diekspresikan oleh beberapa penyair Riau Kepulauan tersebutkan di atas. Hal itu wajar-wajar saja – selaras peran kesenimanan ataupun kecendekiawanan mereka. Yang meskipun masih jauh dari memenuhi harapan, sudah menindak-lanjuti kegelisah-galauan itu dengan iringan aktivitas-kreativitas, bukan hanya dalam penerbitan karya tertulis melainkan juga pementasan.

 

Yakni berupa Gelar Puisi di KSM dan di Teater Mini TMI Jakarta dan yang semacamnya lagi. Yang kesemarakannya kian bertambah dari masa ke masa. Seperti “Resital Sastra dari Negeri Kata-Kata” di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, 29 Januari 2007. Dengan penampilan yang layak dari para penyair Kepri: Tarmizi, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, Machzumi Dawood, Hoesnizar Hood dan Hasan Aspahani. Yang terakhir ini mengutarakan baris baris kata puitis sinis, pedas tapi manis, segar tapi menggetar hati dan pikiran pendengar. Ungkapannya, antara lain: “Perahu / Saudagar / Belajar, dari Bandar ke Bandar, rumah pecah beribu / Kamar, tengah menganga, sejarah samudera berdarah luka / Keduanya tidak bisa lagi ditawar, tak bisa lagi diputar, tak pula dapat ditukar / Perahu / Bandar / Bertolak belayar mencari jangkar, saudagar tak sempat lagi menghitung dinar / Menghitung ringgit, menukar dollar.”

 

Selanjutnya (9/3), gema yang menggugah-gairah alam budaya Indonesia umumnya, khususnya Kepri, tentulah terselenggaranya Malam Anugerah Sayembara Novel DKJ 2006. Dengan salah sebuah bintang cemerlangnya sastrawan kelahiran Tanjungpinang 30 Juni 1957: Tusiran Suseno. Yang meraih pemenang kedua, dengan hasil karyanya berjudul: “Mutiara Karam.” Suatu prestasi yang menambah prestise budaya, bukan saja diri pribadi sang pengarang melainkan juga Kepri bahkan Indonesia di mata dunia.

 

Oleh karenanya  prestasi-prerstise tersebut sekaligus merupakan pertanda penting dari rangkaian dinamika perjuangan pelestarian tradisi yang baik, dengan bukti aktivitas-kreativitas kesusastraan di bumi Melayu yang bernama Riau Kepulauan ini. ***

 

Catatan:

Penulis A.Kohar Ibrahim juga, pelukis kelahiran Jakarta. Tamatan Akademi Senirupa Brussel, Belgia (1972-1979). Tulisannya tersiar sejak akhir tahun 50-an pada zaman Orla. Sejak zaman Reformasi, menyiarkan tulisan di beberapa media massa cetak dan elektronik. Seperti Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Mandiri, Cybersastra, Sijori Pos, Batam Pos, Depok Metro dan Swara.tv. Pengisi kolom-kolom dengan esai sosio-budaya, terutama sekali di Sijori Pos dan Batam Pos, antara lain: (1) Catatan Dari Brusel. (2) Sekitar Tempuling. (3) Sekitar Tembok Berlin. (4) Impresi dari Eropa. (5) Catatan Senirupa dari Belgia. (6) Apresiasi: Saling Silang Seling Berkaitan. . (7) Hidup Mati Penulis & Karyanya: Polemik Pramoedya-Lekra vs Manikebu”. (8) Sekitar Aktivitas Kreativitas Tulis Menulis Di Luar Garis”

Karya tulis yang diterbitkan dalam bentuk buku individual maupun kumpulan tulisan  bersama, antara lain: (1) "Korban", Stichting I.S.D.M. Culemborg 1990. (2) "Berkas Berkas Sajak Bebas", Kreasi n° 37 1998, Yayasan Budaya, Amsterdam. (3) "Puisi" (Kreasi n° 11 1992). (4) "Kesempatan Yang Kesekian" (Kreasi n° 26 1996).  (5) "Yang Tertindas Yang Melawan Tirani 1" (Kreasi n° 28 1997). (6) "Yang Tertindas Yang Melawan Tirani 2" (Kreasi n° 39 1998). (7) "Di Negeri Orang" (Puisi Penyair Indonesia Eksil, edisi Amanah Lontar Jakarta 2002). (8) “Sekitar Tempuling Rida K Liamsi” (Yayasan Sagang, Pekanbaru 2004).(9)  „Tragedi Kemanusiaan 1965-2005“.  LSP-Malka, 2005. (10) „Identitas Budaya Kepulauan Riau“ (Edisi Dewan Kesenian Kepri, Tanjungpinang 2005). (11) „Kepri Pulau Cinta Kasih“, (bersama Lisya Anggraini, edisi : Titik Cahaya Elka, Batam, 2006). (12) “Seks In The Batam City” (Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam, 2007).

Catatan: Ilustrasi foto karya lukis Abe alias A.Kohar Ibrahim, komposisi “Telur Legendaris” (Mesjid Raya Pulau Penyengat Kepri), cat akrilik di atas kanvas.


Kepulauan Riau
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help