Group's posts with tag: esai budaya
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
A.Kohar Ibrahim: Apresiasi Kekuasaan Paranoia Sekitar Prahara Budak Budaya (4) BENAR. Rupanya memang benar konstatasi seorang penulis yang juga penyair, dalam penyimpulan baik dari apa yang disaksikan maupun yang dialaminya sendiri selaku korban, bahwasanya rezim Orde Baru atau OrBa itu adalah suatu rezim paranoia. Rezim yang mengidap penyakit jiwa -- yang selalu membayangkan sesuatu yang tiada sebagai ada, yang selalu mengada-ada, yang selalu menjadikan apa yang dibayangkan sebagai suatu kenyataan; rezim yang melakukan kejahatan berupa perampokan dan pembunuhan tapi menuduh orang lain yang melakukan aksi kekejian itu. Maka dalam derita penyakit paranoia semacam itulah, dengan adanya garda-negara (pasukan bersenjata) yang dimilikinya sekalian alat propaganda berupa media massa yang dihegemoninya, yang berada di bawah ketiak kekuasaannya, maka dilancarkanlah segala manifestasi aksi teroris di segala bidang, termasuk bidang kebudayaan. Bidang kebudayaan dengan sejumlah intelektual dan pengarang yang dibekingnya terutama sekali kaum Manikebuis dan KKPI serta mereka yang menurut istilah Pramoedya sebagai oknum yang masuk “kantong kekuasaan”. Dampak negatip penguasa OrBa penderita paranoia alias sakit jiwa ini sungguh dahsyat, bukan saja selama berjayanya, melainkan juga sesudah sekarat dan beralih ke masa apa yang disebut sebagai Era Reformasi, sampai detik ini malah, ketika bagian naskah ini aku susun. Terbuktikan dengan adanya berita yang dilansir Lampung Post Minggu 2 Nopember 2008: “Pelarangan: Kejagung Tarik Buku Bergambar Palu Arit”. Buku yang bertanda gambar palu arit itu sebenarnya berjudul: H.M. Misbach; Kisah Haji Merah. Karya Nor Hiqmah. Larangan karena alasan sampulnya bergambar palu arit yang diidentik dengan gerakan komunisme atau PKI. Meski penerbitnya, tak beritikad untuk membangkitkan komunisme dengan pemasangan emblem tersebut. “Tujuannya bukanlah untuk mencari sensasi, membangkit-bangkitkan, atau menghidup-hidupkan komunisme. Tetapi lebih didorong oleh kepentingan akademis,” jelas Direktur Komunitas Bambu J.J.Rizal, Sabtu 1 Nopember 2008. Begitulah, salah satu buktinya betapa bahaya laten penyakit paranoia OrBa dengan kandungan ideology anti-komunisme, bahkan hingga saat ini masih terus menstigmatikan kehidupan masyarakat dan menelan korbannya tanpa bosan. Meskipun jumlah korban itu sudah jutaan banyaknya. Maka dengan itu, sebenarnya, aku tak begitu heran atas adanya opini atau sikap-tindakan senada ala mentalitas paranoie OrBa, baik yang datangnya dari kalangan senior, sebayaku ataupun yang lebih muda dariku. Lantaran sisa-sisa mentalitas OrBais itu sesungguhnyalah masih bersitegar hingga dewasa ini. Mentalitas yang tak beda secara hakiki dari kekuasaan arogan kaum penjajah Belanda terhadap kaum pejuang kemerdekaan macam Haji Misbach dan kawan-kawan seperjuangannya. Perjuangan berupa pemberontakan bersenjata yang dicetuskan 12 Nopember 1926 ! H.M. Misbah: Kisah Haji Merah ! Ah, rupanya sekalipun faktual isinya, lagi lagi, kata merah sudah bisa nyaris otomatis membangkitkan manifestasi aksi represi, lantaran kecurigaan dan ketakutan dari kekuasaan sendiri. Yang rupanya masih yang itu-itu juga yang jadi handalannya. Maka dari itu, sekali lagi, sebenarnya aku tak terlalu heran adanya komentar atau opini yang macam-macam itu di Milis Apsas; yang jadi pemicu untuk penyusunan catatanku ini. Dengan salah satu soal yang jadi persoalannya sebuah sajak dari penyair Ananta Jonie berjudul: Kunanti Bumi Memerah Darah. Yang ditulis dan disiarkan tahun 1964, bukan dalam tahun 1965 seperti dinyatakan Hasan Aspahani. Iya. Sebenarnya tak terlalu heran -- kecuali cuma tergelitik. Lantaran aku tahu sudah sejak lama, betapa mentalitas OrBa yang paranoia itu. Mentalitas penyakit jiwa yang mengidap sudah sejak awal mulanya. Bayangkan saja! Jangankan sebuah naskah, sebuah buku, yang hanya sampulnya saja bertandakan simbolis seperti palu arit dan metamorfosa warna merah sarat keberanian, bahkan lagu macam Genjer-genjer sajapun dijadikan korban sasaran. Dinyatakan sebagai lagu yang haram! Dan siapa saja yang coba-coba menyanyikan atau menyatakan rasa suka pada lagu itu akan menerima ancaman sekaligus kecaman atau cap sebagai “Komunis” atau “G30SPKI” ! Pasalnya? Sebetulnya, bagi orang yang waras, lagu tersebut bukan saja layak diapresiasi sebagai bukti penghargaan akan warisan kesenian rakyat dan jadi popular karena disenangi rakyat. Sebaliknya, oleh penguasa OrBa dan budak kebudayaannya telah sedemikian rupa liciknya menyatakan lagu tersbut sebagai “berbahaya”; mengubahnya dari menyenangkan jadi “mengerikan”. Seutuhnya adalah rekayasa rezim paranoia OrBa dengan menempelkan cap: “lagu komunis”. Cap yang mengilustrasi dusta sekaligus fitnah yang berdampak luar biasa dahsyatnya. Bahwa dengan iringan lagu itulah kaum wanita Gerwani dan Pemuda Rakyat berpesta “Harum Bunga” yang amoral lagi biadab di Lubang Buaya, seperti berita rekayasa koran Berita Yudha. Koran militer yang merupakan corong propaganda hitam rezim OrBa yang paronoia itu! Sebenarnya, masih banyak variasi manifestasi aksi bukti ke-paranoia-an OrBais maupun Manikebuis yang mendukungnya. Seperti yang antara lain direkam oleh penulis Hersri Setiawan mantan Tapol Pulau Buru. Semuanya hanya semata-mata merupakan bukti betapa arogansi kekuasaan kolonialis sawomateng yang paranoia itu terhadap kaum yang tertindas yang notabene adalah bangsanya sendiri. Suatu arogansi yang hakikatnya sama dengan kekuasaan Belanda, seperti salah satu contohnya diungkap – lagi lagi – oleh Pramoedya dalam Lentera-nya bertanggal 1 Agustus 1965. Sebagaimana disitir Alan Hogeland dalam esainya yang disiar Majalah Kreasi nomor 24 1995, hlm 40-41. Bahwasanya, karena menyiarkan syair patriotik dalam suratkabar Persatoean Hindia Semarang, Raden Aluwi Tjitroamojo dan Ismail Mangunprawiro dari suratkabar itu dijatuhi hukuman oleh pengadilan kolonial Belanda Semarang pada tanggal 10 Maret 1921. Syair itu berbunyi: Lamalah soeda Hindia berperintah Ampir poeloeh abad mengalah Hari2 Regering memerintah Kaoem miskin dibikin susah Ingatlah kita hidoep tertindas Topeng Regering sangatlah manis Apakah goena kita menangis Baek melawan seranglah habis * Dari uraian di atas, benarlah opini yang menunjukkan bahwa dalam hal apresiasi terhadap hasil kreasi sastra dan seni memang tak lepas dari masalah kepentingan yang ragam macam. Terutama sekali, dan istimewa sekali, apresiasi demi kepentingan kekuasaan dengan segala atribusinya dan dalam segala format atau ragam macamnya. Resmi maupun non-resmi. Karena bentuk-bentuk kekuasaan itu ada di mana-mana, selain di tingkat institusi resmi, ada pula yang non-resmi atau partikeliran; selain dalam golongan, kelompokan atau kawanan, ada pula dalam bentuknya yang fragmentaris ala faksi, geng, gundukan atau klik ! Semuanya, tanpa kecuali membawakan sekaligus berupaya menjaga kepentingannya masing-masing. Oleh sebab itu, tidaklah terlalu mengherankan kalau adanya gejala atau fenomena atau bukti yang membuktikan bahwa hasil suatu apresiasi atas karya seni itu tidak seragam bahkan malah bisa mengundang tanda-tanya. Tak urung, bagaimanapun, apresiasi itu tak bisa tiada dalam kehidupan kebudayaan umumnya, kesenian khususnya. Daya apresiasi, jika datang dari yang berjiwa bebas merdeka dan demokratis tentu saja mampu menghasilkan bukti yang menggembirakan bahkan mengagumkan. Itulah yang amat dibutuhkan, terutama untuk menghindari penyakit bangsa yang parah; istimewa sekali dalam keadaan bangsa memang lagi sakit! Bukti gamblang yang faktual lagi aktual adalah dengan fenomena penerbitan buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku. Itulah contoh hasil daya apresiasi kaum intelektual sejati yang bebas merdeka dan punya nyali. Yang berani mengajukan pertanyaan: Why? Seraya mau dan mampu berupaya membuktikan jawabannya sendiri. Suatu bukti yang monumental! Seru saya dalam keikutsertaan membantu siaran hari peluncurannya. Sedangkan apresiasi yang sangat disayangkan adanya, justeru sampai dewasa ini munculnya, adalah justeru sekitar mengapresiasi karya Pramoedya Ananta Toer dan para sastrawan Lekra lainnya. Suatu gaya apresiasi yang kental dengan muatan ideologi OrBa paranoia. Yang jadi pokok perbincangan dan penyusunan catatan saya ini. *** (3.11.2008) Catatan: Masih akan disambung dengan soal-soal yang dipersoalkan lainnya.
Mawi Ananta Jonie: Kunanti Bumi Memerah Darah Bumi Sosialisme Indoensia Sekitar Prahara Budak Budaya (3) Oleh: A.Kohar Ibrahim SAYA mulai bagian ketiga Sekitar Prahara Budak Budaya ini bersuasana sepereti nomor satu: Di Beranda Betawi dengan irama lagu gambang kromong GK Sinar Terang berjudul Renggong Buyut disusul Jali Jali Bunga Siantan. Sesekali ngigel sembari pejamkan mata, selang seling muncul gambar gambarannya Lenong dengan lakon Si Pitung jagoan betawi yang kondang. Aneh, di pentas tahun 60’an itu para bidak budak budaya yang gairah lincah bermain memainkan peranannya itu ada wajah wajah yang aku kenal. Antaranya: Tarbin si jagoan Pasar Tenabang, Hasan, Mawie, aku sendiri dan Hasan yang berkumis tebal, mengenakan sarong dan peci hitam. Kami menari pencak dengan gaya Melayu seperti Si Pitung. Sang jagoan rakyat yang merupakan perwujudan nama kolektip: 7 Pendekar -- asal serangkai wilayah besar Melayu. Lebih aneh lagi: keikutsertaan Hasan. Padahal pada masa itu, sang penulis “sejuta puisi” itu entah masih berada di mana. Di kayangankah? Tak mengapalah. Lantaran sama-sama penulis dan jurnali, yang suka observasi dan melacak sumber tulisan, seperti aku, dia pun akan dengan mudah mengerti akan lukisan Mawie Ananta Jonie si sekitar Jalan Hayamwuruk, Ibukota Jakarta itu. Dengan baris-baris ini aku hanya ingin menggarisbawahi betapa aku bisa memaklumi adanya postingan Hasan Aspahani seperti yang sepenuhnya dikutip dalam bagian (2) yang lalu. Dengan sabar aku berupaya menghubungi Mawie Ananta Jonie yang sudah sekian lama tak jumpa langsung. Memenuhi harapan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, Bung Mawie menunjukkan bahwa soal sajak yang menjadi persoalan ini sesungguhnya pernah diperbincangkan dua tahun lalu. Dalam postingan di milis Sastra Pembebasan dan dapat dilacak pula di Google. Kongkretnya, seperti yang tertera dalam penjelasannya kepada Saudara Djoko, Saudara Herusutedjo dan sejarawan Asvi Warman Adam. * Penjelasan Mawie Ananta Jonie : Saudara Djoko,
Saya telah membaca surat E-mail Anda tertanggal 1 Maret 2006 terkirim pukul 6:16 pagi melalui "Sastra Pembebasan" (SP). Surat tersebut di dahului dengan menurunkan puisi "Kunanti Bumi Yang Memerah Darah" dengan dua bait isinya. Kemudian Anda menanyakan kepada pencinta milis ini "kenal" atau "pernah membacanya" atau "... bahkan diantara anda adalah penulis puisi ini?"
Baiklah di sini saya katakan bahwa puisi: "Kunanti Bumi Memerah Darah" tersebut jadi bukan "Kunanti Bumi Yang Memerah Darah" adalah karya saya Mawie. Sayang saya tidak mempunyai tanda buktinya lagi tapi seingat saya puisi ini saya tulis disekitar tahun 1964, 42 tahun yang lalu dan dimuat Lentera pada tahun yang sama. Menurut yang beredar sekarang panjangnya adalah 7 bait.
Saudara Djoko, terimakasih atas perhatian Anda.
Salam. Mawie Ananta Jonie. * Saudara Harsutedjo,
Pada tanggal 1 Maret 2006,saya membaca surat E-mail Anda kepada Saudara Djoko di dalam SP yang Anda kirimkan pada pukul 18: 32. Surat E-mail ini kemudian di Fw kan oleh Saudara Omie ke pada adres yang sama sekitar pukul 20:59. Di sini perkenankanlah saya menyampaikan rasa terimakasih saya atas perhatian Anda dan yang telah menjelaskan kepada saudara Djoko bahwa "Kunanti Bumi Memerah Darah" adalah puisi karya saya.
Saudara Harsutedjo, mengemukakan kepada saya isi bukunya Sulastomo "Dibalik Tragedi 1965" yang menyebut saya "sebagai seniman Lekra yang telah mengetahui akan terjadinya peristiwa besar" dan bahkan Taufik Ismail mempertanyakan "Bagaimana bisa Mawie tahu, bahwa bumi akan bersimbah darah,enam setengah bulan sebelum peristiwa itu berlangsung? Kenapa dia bocorkan konspirasi itu? Kok Mawie bisa tahu?..."
* Mengenai surat E-mail Pak Asvi Warman Adam pada tgl 9 Februari 2006 yang dikirimkan beliau pada pukul 4:54 kepada saya dengan menggunakan milis wahana tersebut sebenarnya telah saya balas pada tgl. 10 Februari 2006 pukul 11:39 melalui adres langsung beliau. Pokok yang saya kemukakan kepada Pak Asvi ketika itu adalah soal "bagaimana proses penciptaan sajak ini?" seperti yang ditanyakannya.
Dalam kesempatan ini baiklah saya turunkan penjelasan yang saya berikan kepada beliau tadi sebagai berikut: Sdr. Asvi, Tentang proses penciptaan sajak: "Kunanti Bumi Memerah Darah" kurang lebih seingat saya begini:
Waktunya pertengahan atau akhir tahun 1964, jadi 42 tahun yang lalu, saya sering bolak-balik dengan berjalan kaki di Jalan Hajam Wuruk menyusuri kali Ciliwung. Pada waktu itu tumbuh berderet di sepanjang kali pohon-pohon pelindung. Penduduk memanfaatkan air kali yang diam dan berwarna kuning tanahliat ini sebagai tempat mandi dan mencuci. Hal ini sangat menarik perhatian saya. Akan tetapi lebih menarik perhatian saya lagi adalah adanya orang-orang yang tak berpunya membuat tempat tinggal di bawah pohon-pohon pelindung tadi dengan atap dan dinding dari kertas-kertas karton pungutan dari tempat pembuangan sampah. Rumah-rumah tersebut jauh lebih sederhana dari kandang ayam. Di sinilah sepanjang hari ibu-ibu penghuninya dengan berpakaian lusuh duduk dengan mata menerawang menanti dan entah menanti apa?
Suatu hari ketika saya melewati panorama Ibu Kota yang mengiris ini mata saya terpancing oleh seorang ibu yang sedang duduk dengan memangku anaknya yang menangis mendekap susu ibu yang kempis tak berisi. Mata itu menyapu perut si ibu yang sedang hamil pula. Lepas sesudah itu saya kembali ke tempat tinggal saya di Gedung Pemuda, Jalan Merdeka Utara, tidak jauh dari Istana Merdeka. Di sini hati saya berkata bahwa kemiskinan dan kemelaratan ini tidak bisa ditanggulangi hanya dengan rasa hiba, tidak bisa ditanggulangi hanya dengan cara belas kasihan lalu memberikan seperak dua perak berupa sedekah kepada mereka, lebih-lebih tidak bisa ditanggulangi dengan jalan menggaruk dan menggusur mereka dan melemparkannya jauh ke pinggiran yang terasing. Dan di sini saya mengatakan pada diri saya bahwa penderitan yang dialami mereka semua itu bersumber pada sistim masyarakat "penghisapan oleh manusia atas manusia". Oleh karena itu untuk menghapus maslah ini secara mendasar tidak ada jalan lain kecuali mengubah sistim itu sendiri. Dan sistim yang baru itu adalah seperti yang diajarkan oleh Bung Karno: Masyarakat Sosialis Indonesia! Sistim inilah yang saya ungkapan dengan kata-kata antara lain "kunanti bumi memerah darah" di dalam sajak tersebut.
Demikianlah Saudra Harsutedjo penjelasan saya kepada Pak Asvi tentang proses penciptaan sajak ini. Jadi inilah pula latar belakang dari lahir dan ditulisnya sajak tadi. Dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perkiraan atau ramalan atau karena "telah mengetahui akan terjadinya peristiwa besar". Tidak !.
Di sini saya tekankan bahwa saya menggunakan kata "Kunanti bumi memerah darah" dalam sanjak tersebut dengan maksud sebagai menanti bumi merah dari sistim masyarakat Sosialis Indonesia. Jadi bukan seperti yang dikatakan ..."bahwa bumi akan bersimbah darah". Bukan!
Soal "konspirasi" yang dikemukakan dalam surat E-mail ini tentu menyangkut ... "bahwa bumi akan bersimbah darah",... Saya tak mengerti bagaimana bentuk pekerjaan lonspirasi".Tapi apakah pekerjaan seperti ... akan terjadinya peristiwa besar." yang lalu itu bisa dikasih tahu kepada sembarang orang? Jadi saya tidak tahu sesuatu "konspirasi" dengan peristiwa ini, maka tidak ada pula yang saya "bocorkan" dalam puisi saya. Sdr. Djoko Sri Moeljono dan Sdr. Harsutejo, Sekian dan terimakasih.
Salam Mawie Ananta Jonie.
***
Begitulah pengakuan Mawie Ananta Jonie sang penyair kelahiran Teluk Bayur, Padang Sumatera Barat, tahun 1940. Pengakuannya yang bening dan cerah itu aku yakini. Karena cukup lama aku mengenalnya – selaku penulis-jurnalis yunior (kebanding Pram, Tom Anwar dan lainnya yang senior) dan yang sama-sama mulai gairah kiprah di koran Bintang Timur., Jalan Hayamwuruk, Jakarta itu. *** (1 Nopember 2008) (Masih akan disambung dengan soal yang dipersoalkan lainnya).
Stigma Yang Berdarah Darah Sekitar Prahara Budak Budaya (2) Oleh : A. Kohar Ibrahim STIGMA Yang Berdarah Darah dibudayakan dalam masa terorisme Orde Baru (OrBa), untuk mengkambing-hitam-kan lawan politik demi penegakkan dan melanggengkan kekuasaan rampokannya dengan kudeta militer. Meski sudah sekian lama Era Reformasi, rupanya masih kentara menyisa dalam kehidupan masyarakat maupun aparat pemerintah. Halmana tergema dalam perbincangan di Apsas dan di pers seperti yang saya utarakan dalam naskah terdahulu (1), Apsas 12 Oktober 2008. Bahaya laten stigma ciptaan OrBa itu pun terbuktikan adanya berita jadwal peluncuran buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku yang sedianya dilangsungkan di musium NU dibatalkan, sehingga panitia terpaksa mencari tempat lain, yakni di Gedung Bapelkes, Jalan Bendul Merisi 7, Surabaya. Juga, ketika sedang menyusun naskah ini, datang berita dari sang editor/penulis Muhidin & Ria, bawa tanggal 27 Oktober 2008, Toko Buku Gramedia meretur Trilogi tersebut ke alamat mereka di Jogya. Budaya teroris berupa pemberian cap yang menakutkan sekaligus ketakutan akan lawan politik OrBa yang mereka sebut « G30SPKI », « PKI » sekalian yang secara serampangan mereka cantelkan sebagai « onderbow PKI » macam Lekra itu memang sudah menjadi mentalitas OrBais sejak awal mulanya. Sejak mula terjadinya Tragedi Nasional 1 Oktober 1965. Demi memberikan citra buruk dan kejam atau yang berdarah-darah. Citra buruk sebagai propaganda hitam yang dilakuan dengan menghalalkan segala cara, dalam ragam ruang, sarana, institusi dan media massa (pers) yang mereka hegemoni sudah sejak hari-hari pertama bulan Oktober 1965 itu. Dari perbincangan di milis Apsas, seperti saya utarakan di bagian pertama rangkaian tulisan ini, yang terutama sekali menggelitikku adalah justeru yang langsung berkenaan dengan « citra berdarah-darah » itu. Jelasnya berupa postingan dari sang Penyair Sejuta Puisi asal Bugis bermukim di Kepri yang baru-baru ini memegang posisi sebagai Pimred Harian Batam Pos : Hasan Aspahani. Postingannya tertanggal 3 Oktober, sebagai komentar atas komentar Ikranagara yang antara lain mensitir buku « Prahara Budaya » Dr Taufik Ismail dan D.S. Mulyanto itu, sebagai berikut : « Ini dari blog saya, postingan 24 Mei 2007. Saya punya buku yang disebut Pak Ikra dan sempat agak tekun membacanya. Hasan Aspahani Oleh Hasan Aspahani
/1/ Penyair itu bernama Mawie. Di Lampiran Kebudayaan Lentera, Bintang Timur, 21 Maret 1965, ada sebuah sajaknya terbit. Judulnya "Kunanti Bumi Memerah Darah". Enam bulan sebelum Gestapu 1965 alias G30S/PKI. Pada bait terakhir dari sajak itu tujuh bait itu terbaca: malam ini ia petik kecapi bersama nyanyi Ciliwung airnya merah walapun merah hidup tampaknya kunanti bumi memerah darah kuserahkan engkau kepadanya. Sajak itu dimulai dengan baris: bulan arit di langit. Baris bumi memerah darah itu adalah pengulangan dari baris yang sama di bait kedua. Enam bulan sebelum bumi Indonesia benar-benar memerah darah.
Begitulah tema dan gaya umumnya sajak-sajak penyair Lekra/PKI dan LKM/PNI yang terbit di lembar kebudayaan surat kabar kelompok itu, Harian Rakjat dan Bintang Timur (Lampiran Kebudayaan Lentera). Tema yang memanglimakan politik. Tilik judul-judulnya: Kepalaku Marxis, Diriku Leninis (Sobron Aidit), Leningrad (Setiawan Hs), Kepada Konferensi (Hersat Sudijono), Gayang Malaysia, dan Peking (Nusananta), Penerbangan Malam ke Leningrad (Verga Belan). Sajak-sajak itu terbit dalam selang waktu 1962-1965.
Adapun Lekra, Lembaga Kebudayaan Rakyat dibentuk pada 17 Agustus 1950 di Jakarta. Lembaga ini digagas oleh D.N. Aidit, M.S Ashar, A.S. Dharta, dan Njoto. Anggota awalnya adalah para penggagas itu ditambah beberapa nama: Herman Arjuno, Henk Ngantung, dan Joebar Ajoeb. Pada awalnya Lekra punya lembaran kebudayaan tiap minggu di majalah Zaman Baru yang terbit di Surabaya. Lembaran itu dikelola oleh Iramani (alias Njoto), Klara Akustia (A.S. Dharta), dan M.S. Ashar. Setahun setelah berdiri, Lekra sudah punya cabang di 20 kota. Cepat dan sistematis sekali.
/2/ Iwan Simatupang, pengarang sejumlah novel dan kumpulan cerita pendek itu, ada menulis sejumlah surat politik sepanjang antara tahun 1964-1966. Akan kita kutip salah satunya yang sewaktu dengan sajak di bagian di atas. Surat itu ditulis 4 Februari 1965. Kurang lebih 7 bulan sebelum G30S/PKI.
Petikannya: Larto, Suatu psikose menjalar kini di seluruh nusantara: bila persis PKI mau coup? Aidit boleh seribu kali membantah, rakyat dan AB kita makin teringat pada Madiun. Dan Aidit secara seratus prosen - Aidit sudah pula menggertak. Bila di tahun 1948 PKI dengan anggotanya yang cuma 100.000 orang bisa bikin korban begitu banyak sudah, maka bagaimana dengan PKI sekarang yang sudah punya anggota tiga juga (resmi)? Secara aljabar kelas 1 SMP: tentu seramnya bakal tiga puluh kali! Jadi, mayat yang bakal bergelimpangan akan berjumlah tiga puluh kali; darah kering di gedung-gedung pembantaian (yang mungkin juga nantinya bakal mereka sebut Marx House) tebalnya tiga puluh kali dari darah kering yang ditemukan di ubin Marx House di Madiun tempo hari. Semua gambaran seperti ini memang seram, Larto! dan memang, bukan tak punya alasan rakyat kita untuk mengenangkan kembali Madiun di tingkat pergolakan politik seperti kini ini di tanah air kita... /3/ Apakah Marx House? Saya lupa apakah pernah atau memang tak pernah mendapatkannya dalam pelajaran sejarah di bangku sekolah. Marx House adalah rumah pembantaian di Madiun, di lantainya darah kering setebal 2,5 cm! Rumah itu ada juga, di Dungus, Walikukun, Tulung Agung, Pacitan, dan nama-nama kota lain-lain.
/4/ Surat itu dtulis tujuh bulan menjelang darah tumpah. Darah yang dinanti oleh sebuah sajak lain, enam bulan sebelum benar-benar tumpahlah darah. Surat Iwan yang tinggal di Bogor ditujukan kepada sahabatnya pengarang B. Sularto (Yogya). Surat-surat pribadi yang kala itu tidak dibaca umum. Ia kelak dibukukan jauh hari, dan baru kita bisa membacanya dengan bebas. Sementara sajak itu? Ia terbit di surat kabar, yang tentu dibaca orang banyak. Bayangkanlah, semuanya terjadi enam-tujuh bulan menjelang darah tumpah. Ada sajak yang merindukan tumpahnya darah itu, ia dalam sajak itu menanti sambil memetik kecapi dan nyanyi. Dan surat itu meramalkan dengan kengerian -- tapi si penulis surat tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya, selain menulis surat untuk sahabatnya.
/5/ Selembar surat. Sebuah sajak. Dari keduanya kini kita bisa melihat banyak hal: ada penguasa yang lupa, ada partai dengan sebuah ideologi yang laku dijual dan pemimpinnya yang taktis dan jenius yang amat efektif merangkum massa dan menggerakkannya, sebuah catatan sejarah yang begitu mudah dilupakan, dan ancaman pertumpahan darah yang eh justru ada yang "merindukan" .
Darah kemudian memang tidak saja tumpah, tapi mengucur dan mengalir dan merebak kemana-mana. Termasuk darah-darah mereka yang merindukan itu, juga mereka yang tidak tahu apa-apa, dan mereka yang tidak pernah tahu sajak itu.
* Sumber bacaan: Taufiq Ismail dan D.S. Moeljanto, Prahara Budaya, Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Mizan, Cetakan ke-4, 1995. » * Demikian postingan Hasan Aspahani yang suka menyingkatnya dengan HAH, lantas saya balas : Bung HAH Yb, Menyimak postingan Bung di bawah ini, saya jadi tergelitik sekalian penasaran. Pertanyaannya sederhana saja: Bung susun/siar tulisan tersebut 24 Mei 2007, setelah sekian usia dengan pengetahuan dan aktivitas-kreativitas sekalian, apakah sikap pendirian atau opini Bung sampai detik ini masih seperti yang Bung ekspresikan itu? Atas penjelasan Bung, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan banyak terimakasih. Semoga akan menjadi tambahan pengetahuan saya dalam aktivitas-kreativitas tulis menulis. Salam, (Kohar) * Balasan Hasan Aspahani, Apsas 4 Oktober 2008 : Bang Kohar yang baik, Makanya saya posting di sini, mumpung ada diskusi yang kena mengena dengan hal ihwal itu. saya berusaha menjadi wartawan yang baik. cek dan balik-cek. verifikasi. cuma itulah, selain urusan mencari nafkah, tentu saja urusan sastra menyastra begini hanya diurus sesempatnya, mungkin tulisan yang disebut akmal tadi ingin saya dapatkan. bang kohar, bisakah mengomentari apa-apa yang saya kutip disitu? sajak itu? judul-judul sajak itu? surat iwan simaputang? saya belum memferivikasi ke mana-mana. buku Prahara Budaya itu saya kira buku yang mengutip fakta-fakta (isinya kan kliping koran). tapi apakah kemudian fakta itu disusun dengan netral? saya kira tidak. paling tidak saya berusaha membaca dengan kritis untuk menghindar dari ketidakberimbangan dua editor penyusun buku itu. itu, Itu saja, bang. Hasan Aspahani
* Balasan saya atas balasan Hasan, Apsas 4 Oktober 2008 : Iya, deh. Terima kasih atas penjelasan Bung. Telah mengurangi kekhawatiran saya. Khawatir jika mengingat posisi Bung yang bukan sebagai "pemula" atau "anak kemarin", melainkan telah punya pengalaman dan berjasa di bidang kesusastraan Indonesia, juga di dunia pers, dimana Bung berposisi sebagai Pimred Harian Batam Pos. Bukan hanya mengingat harapan dari Hasan Aspahani tersebut di atas, tapi juga untuk membuktikan keseriusan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan lainnya, terutama terhadap Ikranagara, maka saya mulai mengkontak penyair Mawie Ananta Jonie sekalian melacak beberapa dokumentasi atau catatan budaya saya sendiri, baik yang belum maupun yang sudah disiarkan seperti majalah Kreasi dan majalah Arena dan lainnya lagi. Dengan harapan, seperti yang sudah-sudah, semoga saja catatan saya kalini juga ada manfaatnya untuk dijadikan bahan pertimbangan bagi yang berkenan. *** (27 Oktober 2008) Catatan : Ilustrasi foto bersejarah Mawie Ananta Jonie – berdiri, kelima dari kiri - ketika sebagai mahasiswa di RRT, tahun 1964. (Foto : Dokumentasi MAJ).
Gado-gado Betawi : Sekitar Prahara Budak Budaya Oleh : A. Kohar Ibrahim (1) AWAL mulanya bermula dalam suasana Beranda Betawi dengan selang seling irama musik menggelitik mampu mengundang mesem ayem sampai tawa cekikik. Manakala terdengar duel sepasang lelaki-perempuan, seniman-seniwati, membawakan lagu : « I don’t know. Apa artinye ? » Tanya berbalas jawab mengumandang sindiran lagu manusia. Seperti lagak lagu tinggi-pendek hati, pinter-keblinger, tahu tapi tak tahu ; si miskin berlagak kaya, tua-tua keladi dan sebagainya lagi. Pertama-tama ditanya lelaki apakah bisa ngomong Inggris, perempuan yang ditanya menjawab : Itu mah bahasa sehari-hariannya. Setelah bilang : « Ah sombong, lu, » sang lelaki, si Abang Betawi penasaran, nggak tahan nguji : « I don’t know – apa artinye ? » « Aye nggak tau…» jawab sang perempuan, tentu sembari mesem. « Bodo, lu ! » cetus sang lelaki, manis-pedes seperti rujak ulek. Aku mesem terkesankan betapa dalam pernyataan dirinya orang bisa dengan sengaja atau tidak sengaja tergelincir jadi pinter keblinger. Malah secara tak malu-malu mengangkat diri sendiri seraya merendahkan orang lain dengan memberikan cap : bodoh. Meskipun faktanya yang menerima tudingan bodoh itu menyatakan kebenaran alias tidak bersalah. Iya. Begitulah lagak lagu manusia. Masih dalam suasana Beranda Betawi aku alih dengar suara duel Bang Ben dan Ida Royani dengan lagu Jali Jali. Salah sebuah lagu yang memang enak merdu sekali. Meski cerita macam-macam tentang ular naga dan ular kadut, dari Turki ke Bojong Lompong, keloyoran sana sini tak bisa tidur sampai Kramat hanya bisa berakhir di Cikini. Sungguh suatu kebetulan yang menimbulkan kesenangan sekaligus membikin hati dan pikiranku terusik, pabila iringan musik Gambang Kromong menyajikan juga lagu Jali Jali yang merupakan variasi berjudul Jali Jali Bunga Siantan, Mat Nuh mendadak datang seraya bilang : « Ade kiriman dari temennye Muntaco, Bang. Mpok Linah. » « Dari Mpok Linah ? » « Iye : Mpok Erlinah, bininye Bang Zainal, temennye pengarang Gambang Kromong – Firman Muntaco. Preksa aje tuh kirimannye di Apsas. Nyangkut soal Pram. » « Hooh, deh, Mat. Nanti ane preksa, » kataku, lantas Mat Nuh kembali ke kamarnya. Meneruskan urusannya mengumpulkan bahan-bahan dari Internet yang diperlukan. Tentu saja, sembari terus mendengarkan lagu Betawi dengan suara Bang Ben si Item Manis aku buka kotak email, hanya untuk menemukan kiriman dari si Mpok bersangkutan. Aku tak kuasa menahan mesem selagi mendengar lagu Item Manis bareng teringat Mpok Linah – orang Betawi asal Batak yang berkulit putih bersih. Sang mantan wartawan Sulindo merangkap redaktur Berita Minggu itu tentu saja juga temannya pengarang cerita Betawi yang kondang : Firman Muntaco pengelola rubrik Gambang Kromong yang diisinya tiap minggu. Dan kebetulan kami tinggal sama-sama di daerah Petamburan -- aku di Gang Kiapang, sedangkan Firman di Kober. Letak rumahnya di tikungan jalan menuju Palmerah, dekat Toko sekaligus bengkel batu nisan. Akan tetapi, perihal Mpok Linah, dia aku kenal bukan saja sebagai jurnalis dan penulis, melainkan juga deklamatris kondang. Yang sering tampil memeriahkan acara malam budaya di Gedung Kesenian. Pada masa itu, Zainal Afif yang kelak jadi suaminya selain penyair dan esayis serta penyiar di RRI juga deklamator. Seperti juga Anak Medan lainnya : Kamaludin Rangkuti, Aziz Akbar dan Amarzan Ismail Hamid. « Hebat banget ! » bisikku dalam hati, ketika membuka kiriman Mpok Linah alias Rondang Erlina Marpaung itu. Justeru, ketika aku teringat pada beberapa penulis Anak Medan atau Sumut itu, apa yang dikirimkannya adalah artikel yang ditandatangani suaminya, Z. Afif , berupa komentar « Pram dan Hadiah Nobel ». Nyambung sekali dengan salah satu pembicaraan milis Apsas dalam periode akhir September awal Oktober 2008 ini. Pembicaraan yang berkisar pada situasi sastra Indonesia dan soal persoalan hadiah – terutama sekali Hadiah Nobel dan hadiah internasional lainnya seperti Magsaysay Award. Dalam mana, lagi-lagi nama sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Ananta Toer jadi persoalan lagi. Dalam naskah komentar Afif tertanggal 24 September 2004 itu pun tertera beberapa nama anak, budak atau bidak budaya lainnya, selain yang dijagokan seperti Guo Xingjian si pemenang Hadiah Nobel asal Tiongkok, juga Mahfud dari Mesir, Pramoedya dari Indonesia ; selain deretan para pembincang seperti Ramses, Widjaya, Ubes dan Ikranagara. Bahkan tertera nama Afif-Rondang puteri : Nyala Baceh, sang Magister Sinolog. Tulisan berupa komentar dari Afif (2004) itu tentunya dimaksudkan untuk menyambung-ingatkan tulisan dari Ikranagara tertanggal 1 dan 2 Oktober 2008. Tulisan yang juga terutama sekali bersambut dengan tulisan dari Akmal Nasery Basral dan Hasan Aspahani serta yang lainnya lagi. Tulisan-tulisan yang nada intinya masih menyanyikan lagu lama, dengan ujung tombak tertuju pada Pramoedya Ananta Toer. Pada yang mereka anggap « dosa-dosa » Pramoedya di masa lalu, tegasnya di zaman Orde Lama. Seperti yang digemakan dalam buku « Prahara Budaya » dan kemudian dalam manifestasi aksi dari kalangan penulis yang menentang Hadiah Magsaysay untuk Pramoedya Ananta Toer. Dalam hingar-bingar mana, terkait pula salah seorang penyair kiri bernama Mawie dengan sajaknya berjudul « Kunanti Bumi Memerah Darah ». Semata-mata untuk terus menimbulkan kesan atau melanggengkan pembenaran garis politiko-ideologi anti-komunis Orde Baru terhadap kaum Kiri. Lebih tegasnya lagi : untuk terus mencanangkan akan kelatenan bahaya Komunisme atau PKI ? Rupanya mentalitas Orbais macam itu ternyata memang bukan saja belum sirna, meski Era Reformasi sudah sekian lama, melainkan masih terus dipelihara. Seperti dibuktikan oleh pernyataan KSAD Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, dalam upacara tahlil dan doa di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya (30/9/2008) bahwa : « Upaya Kebangkitan Komunis Semakin Nyata ». Terus terang saja, aku memang tergelitik oleh hal-ihwal yang saling bersangkutan dengan sejarah tersebut. Sejarah yang selain mampu menggugah juga layak digugat lantaran ditulis dengan penuh rekayasa oleh penguasa Orba. Seperti yang dikonstatasi oleh sejarawan Dr Asvi Warman Adam baru-baru ini. Maka itulah sebabnya kenapa saya merasa terdorong untuk menuliskan serangkai catatan ini. Dorongan menulis dalam suasana irama musik Betawi seperti Gambang Keromong dengan Jali Jalinya. Lantaran tumpuan utama ingatanku pada serangkai peristiwa di kota Jakarta, istimewa sekali di Jalan Hayamwuruk. Kongkritnya di kantor koran Bintang Timur. Lebih kongkrit lagi : di ruang kebudayaan koran tersebut dengan nama termasyhurnya : Lentera. Tempat kekuasaan seseorang yang menjadi simbol kaum pengarang kiri bernama Pramoedya Ananta Toer. Sebagai pengelola Lentera. Yang, justeru, antara lain menyiar sajak « Menantikan Bumi Memerah Darah ». Sajak yang oleh kaum Manikebuis dijadikan salah satu unsur untuk mendasari serangannya terhadap pekerja kebudayaan kiri, istimewa sekali : Lekra. Sementara aku girang nyaris bergerak nandak mendengarkan irama musik Gambang Kromong, di bola mataku beruntun duyun para budak dan bidak, bocah atau anak pekerja budaya yang ragam macam. Semuanya bergerak anjak langkah di arena budaya dalam upaya turut memeriahkan suasana. Menari-nari atau riang gembira bernyanyi atau mencak-mencak selaras nada irama yang disuka. *** (11 Oktober 2008)
Apresiasi Warisan Budaya Kebhinnekaan Oleh: A. Kohar Ibrahim Dengan memahami pandangan Mahmoud Darwich yang mengapresiasi bahwa „Warisan peradaban manusia adalah satu: diperkaya oleh suatu proses yang panjang“. Dan bahwasanya asal-usul yang modern itu klasik. Begitu pula bahwasanya yang „pelopor itu asalnya ribuan tahun“. Maka dengan meneladani semangat dan gaya pandang elang laut ala Hang Nadim, akan lebih mudahlah bagi kami untuk menyikapi kehidupan dan warisan budaya Melayu Riau. Khususnya terhadap penilaian historis bahwa „Sastra Riau bermula dari puncak“. Tentunya penilaian itu bukan sembarangan, melainkan berdasarkan fakta atau bukti-bukti akan adanya budayawan, sastrawan beserta hasil karyanya. Hasil-hasil karya masa lampau hingga kekinian zaman. Hasil aktivitas-kreativitas seni sastra yang telah memperkaya khazanah sastra bukan hanya Melayu, tapi sekaligus juga Indonesia, Nusantara bahkan dunia. Hasil kesusasteraan Melayu itu pun telah dengan sendirinya memperkaya sekaligus mendorong maju ilmu pengetahuan. Karena satu sama lainnya saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Ilmu, baik yang secara umum maupun khusus seperti kesusastraan itu, kemajuannya senantiasa melalui asah-ujian dalam praktik, pertukar-pikiran atau bahkan perdebatan yang bebas merdeka. Artinya, adanya kebebas-merdekaan dalam mengekspresikan diri, sekalipun terjadi keberbedaan dalam kebersamaan. Keberbedaan pendapat yang selayaknya dianggap wajar dalam upaya menemukan dan menegakkan kebenaran. Suatu kewajaran pula adanya keberbedaan itu, jika diingat wilayah Indonesia dan penduduk yang terdiri dari berbagai bangsa atau sukubangsa sekalian budayanya. Yang secara obyektif dinyatakan sebagai « Bhinneka Tunggal Ika ». Maka dari itu kami bisa memaklumi, bahkan dalam hal apresiasi keberadaan bahasa dan sastra Melayu dalam kaitannya dengan sastra Indonesia umumnya, terdapat berbagai pendapat, penilaian atau pandangan. Karena hal itu tak bisa dianggap lain kecuali menunjukkan adanya kedinamikaan intekeltualitas yang pantas. Bahwa ada orang meragukan atau mempertanyakan sesuatu atau hal ihwal --- suatu kesimpulan, suatu penilaian atau pandangan sekalipun –- adalah merupakan kewajaran yang sewajar-wajarnya. Dari kalangan intelektual Indonesia yang mengutarakan kewajaran adanya keberbedaan pendapat, wajarnya meragukan dan mempertanyakan sesuatu dalam rangka menemukan kenyataan dan kebenaran, adalah penyair dan pakar kesusastraan Indonesia Ajip Rosidi. Seperti yang diucapkannya dalam ceramah di KBRI London 1999 berjudul « Mitos, Indoktrinasi dan Realitas », yang kemudian termuat dalam buku « Trang-trang Kolentrang » terbitan Grimukti Pasaka. Ajip secara tajam mengkritisi ditumbuh-kembangkannya mitos sejak awal masa pergerakan kebangsaan yang kemudian dimanfaatkan oleh Orde Lama dan lebih-lebih lagi oleh Orde Baru dengan cara indoktrinasi yang menjadikan orang ketakutan terhadap kenyataan dan ketakutan terhadap pendapat yang berbeda dari yang diajukan secara resmi oleh sang penguasa. Hal mana mengakibatkan kemunduran bahkan kerugian yang dahsyat dengan terjadinya bukan saja pembunuhan pendapat atau pikiran orang, melainkan juga pembunuhan orangnya itu sendiri. Apakah orang-orang sebagai individual maupun kolektif pergerakan – seperti dalam pergolakan yang terjadi di berbagai daerah disebabkan oleh keberbedaan dan ketidak-puasan terhadap pusat. Meskipun telah terjadi tindakan yang biadab, anehnya kata Ajip : « …kita tidak merasa bersalah, apalagi berdosa, walaupun sehari-hari kita taat menjalankan syari’at agama – seperti sembahyang lima kali sehari atau setiap Ahad pergi ke gereja. Kita telah menjadi robot tempaan indoktrinasi yang tidak mempunyai hati nurani. » Oleh karena hati nurani sudah terbekukan, orang hanya mendengar kepada perintah resmi dari pemerintah tanpa berpikir atau bertanya apakah benar ataukah salah. Karenanya, menurut Ajip : « Sebagai bangsa kita sudah terbiasa tidak mempunyai pendapat sendiri, apalagi yang bersumber dari hati nurani. » Oleh karena itulah pula, « ketika tiba ‘zaman reformasi’, kebanyakan bangsa kita menjadi gamang. » Setuju atau tidak dengan Ajip Rosidi yang menilai praktek « Demokrasi Terpimpin » maupun « Demokrasi Pancasila » ternyata samasekali bukan demokrasi pun tidak memberi kesempatan untuk melatih hidup sebagai demokrat. Namun adalah pendapatnya yang bernas mengenai kehidupan berdemokrasi, yang « bukanlah menuntut agar kita diberi kesempatan untuk memperdengarkan suara kita saja, melainkan juga kesediaan kita untuk mendengarkan orang lain mengemukakan pendiriannya yang tidak mustahil bertentangan dengan pendapat dan kepentingan kita. Kita bukan saja harus berlapang dada mendengarkannya, tapi harus pula menerimanya sebagai kebenaran yang sama besar haknya dengan pendapat kita. Kita yang sudah terbiasa berpikir satu jurusan dan menganggap pikiran yang tidfak sesuai dengan kita sebagai pikiran ‘subversif’ yang harus dibunuh (termasuk orangnya), tidak mudah menerima prinsip-prinsip demokrasi seperti itu. Kita cenderung untuk menghancurkan orang-orang yang berbeda pendapat atau bertentangan pendapat dengan kita mempergunakan kekuasaan yang (masih) ada pada kita atau bahkan mempergunakan kekuatan fisik. » Saya sengaja mensitir pendapat seorang demokrat macam Ajip Rosidi itu karena memang layak untuk disimak sebagai butir-butir pikiran yang bernas. Kebernasan baik dalam melakukan peninjauan beragam segi kehidupan bangsa pada umumnya, maupun kehidupan kebudayaan khususnya, lebih khusus lagi bidang seni sastra. Karena dalam bidang inipun terdapat keberbedaan pendapat atau pandangan dalam hal-hal tertentu seperti kapan dimulainya kesusastraan Indonesia. Termasuk adanya perbedaan pendapat antara yang dikemukakan Ajip Rosidi sendiri dengan beberapa budayawan atau sastrawan lainnya. Seperti yang antara lain dicanangkan oleh Asep Salahudin Samboja dalam eseinya « Merekonstruksi Sejarah Sastra Indonesia » yang dilansir Cybersastra 26 Agustus 2002. Asep dengan eseinya itu dengan jelas mendemonstrasikan dirinya selaku intelektual yang selaras dengan pandangan Ajip Rosidi. Yakni mengenai perlunya meninggalkan ketakutan seraya menunjukkan keberanian bertanya dan berpikir serta mengemukakan pendapat sendiri, yang kemungkinan sekali bisa berbeda dengan pendapat orang lain. Dalam kaitan ini, justeru keberbedaan dalam melakukan penentuan kapan sastra Indonesia bermula seperti yang disajikan oleh A Teeuw dan Ajip Rosidi serta Umar Junus. Yang ketiga-tiganya « membuat titik awal kelahiran sastra Indonesia » dengan mengandalkan tolok ukurnya bukan dari wilayah internal sastra itu sendiri melainkan dari luarnya, yakni « kesadaran kebangsaan » dan atau yang « bersifat nasional ». Jelasnya : sejak adanya Pergerakan Nasional dan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dan Asep mengajukan pertanyaan yang selayaknya mampu menggugah hati dan pikiran pembacanya : « Ketika sekarang bangsa Indonesia mengakui bahwa candi Borobudur yang didirikan pada abad ke-8 di jaman dinasti Syailendra sebagai anasir sejarah nasional Indonesia, kenapa karya-karya sastra pujangga-pujangga lama kita tidak diakui dalam serjarah sastra Indonesia ? » Setelah mengurai lebih lanjut eseinya dengan mengutarakan sederetan panjang nama-nama pujangga lama dan baru serta mengajukan Perancis sebagai contoh, Asep Salahudin Samboja menulis baris-baris pertama dari paragrap akhirnya : « Kalau kita mau jujur, sebenarnya perjalanan sejarah sastra Indonesia pun sudah berabad-abad…. » Suatu pernyataan sekaligus kesimpulan yang kami setujui – selaras dengan sikap yang menggaris-bawahi pandangan Mahmoud Darwich seperti diutarakan di atas. Makna tersiratnya adalah juga berupa pengakuan terhadap fenomena sejarah « sastra Riau bermula dari puncak ». Yang ibarat puncak gunung tak mungkin adanya tanpa lembah, kaki, lereng dengan isi dan semua sisinya. Dan puncak yang menjulang itu telah menjadi warisan amat bermakna bukan saja bagi bangsa Melayu, melainkan juga Indonesia dan dunia. *** Catatan : Naskah bermula disiar Harian Batam Pos. Ilustrasi foto : Lisya, Dwi dan Aulia (2008).
 Siar Ulang Naskah Bersejarah : Saling Silang Seling Kait Berkaitan Oleh : A. Kohar Ibrahim Untuk Hendri HEN, sekitar peluncuran buku Kepri Pulau Cinta Kasih dan pameran lukisan Abstrak Non Abstrak di Novotel Minggu Malam 30 Juli 2006. Ketika yang lain hadir dikau tak. Namun tak pula urung kehadiranmu karena begitu terasa meski tanpa sosok dan suara. Pasalnya bagaimana bergaya dalam mensiasati taktik trik menggelitik mengubah teori dalam tindakan hakiki. Sebagai upaya sekaligus bukti aspirasi senada kata puitika seorang penyair akan pentingnya hadir mengalir ? Hen, perihal gaya taktik trik menggelitik, dari kalangan akar-rumput tersebut-sebut sebagai « gerilya ». Tapi apa beda sehakikinya dengan cuap-ucap sang pendekar budaya macam Nizar tentang perlunya pertaruhan atau perjuangan bagi kelangsungan aktivitas-kreativitas seni dan budaya ? Dan pada malam pembukaan acara Minggu 30 Juli lalu itu, Hen, selaku Ketua Dewan Kesenian Kepri Nizar tidak hanya sekedar cuap-ucap kosong melompong, melainkan sebagai mitra budaya dengan otorita yang mengerti politik dan kebebasan seniman. Oleh karenanya, dia seperti halnya dikau mengerti sekali akan makna hakiki hadir mengalir sebagai aspirasi tiap seniman, sastrawan dan penyair. Selagi menampaknya berdiri tegak bergaya gayanya sendiri mencuap-ucap kata sambutan pembukaan itu, sejenak aku teringat pada baris-baris puitisnya dalam „Dongeng Pasir“ yang memang layak terukir dalam benak: « …. o, malam terang benderang / berkilaunya gelap dan kecipak gelombang / tuhan bagai menggayut di bintang di bulan / memberikan cerita perjalanan asmara / dan ikan pun menjaring sejarah / tenggelam tumpah kami menyelam / berbagi cerita berbagi resah. » Sungguh, suatu osmosia imajinasi-realita hidup kehidupan romantika puitika. * Untuk Samson SAM, layaknya untai rambut menggelombang panjang terurai di pantai, Minggu malam itu sesungguhnyalah aku maknai lukisan baris kata puitis Nizar: „malam terang benderang“. Justeru lantaran „berkilaunya gelap dan kecipak gelombang“. Bersimbah cahaya Ilahi sarat akan „kisah perjalanan asmara“. Kisah cinta kasih sesama insan manusiawi penghuni alam semesta. Ah, mana ada yang lebih lumrah lebih gairah lebih indah sekaligus pula merupakan anugerah dari pada cinta kasih dalam perjalanan hidup dan kehidupan ini, Sam? Bukankah penyair Ernst Thälmann pernah menulis baris puitis-romantis: „Dia yang hatinya penuh cinta, menjadikannya benteng terhadap derita.“ Benar, Sam. Itulah benarnya kebenaran yang tegar sekaligus lembut segar bugar seperti melati seperti sakura seperti mawar. Oleh karena itu aku hanya bisa mengulum senyum bangga ketika di ujung suatu sidang Dewan Kesenian Kepri aku diundang datang dengan teriak lantang dari Hendri: „Inilah salah seorang yang jarang, dalam situasi seperti sekarang, meski sekian puluh tahun di tanah seberang namun kecintaannya pada Indonesia tanah tumpah darahnya tak pernah hilang“. Yang disambut riuh segenap peserta sidang dengan salaman hangat selayaknya kaum kerabat yang akrab. Sedangkan Lisya sang pendampingku hendak mencoba menyembunyikan kegembiraannya pun tak mungkin bisa. Iya. Memang benar begitu, Sam, seperti dikau ulang bilang di hadapan para hadirin Minggu malam itu. Benar: ada saling silang seling dan erat berkaitan hingga satu menyatu dalam titik dalam lingkaran perasaan cinta kasih antara tanah air, seni-budaya dan cinta pada gadisku terkasih di Batam Riau Kepulauan. Salah satu dari serangkai umbai-umbai kesatu-paduan adalah serangkum naskah itulah yang dalam tahun 2005 disiar Batam Pos hingga akhirnya berubah sebuah buku – Kepri Pulau Cinta Kasih kami itu. Dan itu pula, selain salah sebuah bentuk ibadah sekaligus juga gaya aku meneladani Sultan Mahmud, dalam persembahan mas kawin kepada perempuan terkasihnya. Bedanya, Sam, jika mas kawin Sang Sultan untuk kekasihnya Engku Puteri Raja Hamidah yang diperisteri itu berupa Pulau Penyengat, sedangkan dariku hanyalah seberkas naskah yang menggemakan irama lagu cinta pulau legendaris itu belaka adanya. Maklumlah, selain kehakikiannya, memang ada perbedaan zaman, perbedaan situasi dan kondisinya masing-masing. Sekali pun berulang kali aku cuap-ucap selaku orang yang tergolong kaum pencinta yang mencintai cinta. Maka, kami setuju baris kata puitis penyair Syaukani Al Karim: „…lalu dengan cinta, sebarkan sabda kebenaran, kebebasan dan kearifan, di setiap sudut dan lorong, pada tiap detik waktu.“ Dan itikad kami tak ubahnya sebuah pepatah : „Rentak sedegam, langkah sepijak.“ * Untuk Agus GUS, dengan urai ujar kata di atas sebagai pelengkap, aku hanya ingin mengkonfirmasi yang Bung konstatasi dalam ANTARA News 31 Juli lalu. Antara lain, memang iya, bahwasanya: „Lisya tak sekedar berhasil ‚memanggilku’ pulang dan mengunjungi kota Tanjungpinang dan situs peninggalan Pulau Penyengat di tahun 2005, tetapi kini menjadi istriku di usia senja…“ Iya, Gus. Kebenarannya memang sedemikian benar. Pertemuan kami bukan berdimensi privasi bagi diri pribadi semata, melainkan bagi tanah tumpah darah dan budaya bangsa Indonesia tercinta. Iya, memang iya, Gus. Aku ngaku. Seibarat burung bangau, setinggi-jauhnya terbang, tapi ke pelimbahan juga kembalinya. Dan dalam senda gurau yang suka-ria mencuap-ucap „pulang ku ke pangkuan Ibu Pertiwi“ sebenar-benarnyalah tanah tumpah darah kucium seraya beranjak menjamah telapak kaki untuk berlabuh di pangkuan sang Dewi Anggraini terkasihku. Sedangkan dalam kait sekaitan usia senja seperti dikau ulang bilang pula, hal itu hanya mengundang senyum seraya mengingatkanku pada baris kata puitis romantis penyair Chairil Anwar almarhum: „Aku ingin hidup seribu tahun lagi.“ Gila! Dengus dikau, Gus? Tetapi memang aku pun ngaku senang Lagu Gelombang Kahlil Gibran, yang juga ingin ku ulang bilang, bahwa: „…aku pemuja cinta / dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa / mungkin kelelahan akan menimpa / namun tiada aku akan binasa.“ *** Catatan: A.Kohar Ibrahim penulis, pelukis tamatan Académie Royale de Beaux-Arts de Bruxelles – pameran tunggalnya yang terakhir „Abstrak Non-Abstraks“ dibuka bareng dengan peluncuran buku kumpulan esai bersama Lisya Anggraini „Kepri Pulau Cinta Kasih“ (penerbit Yayasan Titik Cahaya Elka, Batam) di Novotel 30 Juli 2006 (pameran diperpanjang sd Senin 7 Agustus). Karya tulisnya disiarkan di beberapa media cetak dan internet seperti Cybersastra, SwaraTv, Depok Metro, Batam Pos, Majalah Budaya: 12). Sedangkan dalam bentuk buku kumpulan tulisan individual maupun bersama, antara lain „Sekitar Tempuling Rida K Liamsi“ (Penerbit Yayasan Sagang Pekanbaru 2004), „Di Negeri Orang“ (penerbit Yayasan Lontar Jakarta 2003) „Identitas Budaya Kepulauan Riau“ (penerbit Dewan Kesenian Riau 2005). Ilustrasi foto sambutan Ketua Dewan Kesenian Kepri Husnizar Hoed atas peluncuran buku „Kepri Pulau Cinta Kasih“ Lisya-Kohar, di Novotel Batam, 30 Juli 2006.
 A.Kohar Ibrahim: Dari Puncak Pahlawan Nasional Sastra Kepulauan Riau (Esai Budaya) PADA saat tuntutan Kabupaten Kepulauan Riau sudah berubah menjadi Provinsi Kepri dan sesudah salah seorang putera kelahiran kawasan ini dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia, ada pertanyaan yang berpusat pada soal identitas kebudayaannya. Sesungguhnyalah ini menggelitik hati dan pikiran. Pasalnya, saya pun segera paham, bahwa jawaban-jawaban sekitar permasalahan tersebut akan disunting dan diterbtikan sebagai buku. Salah sebuah buku dari rencana kumpulan tulisan bersama sekitar tema : identitas kebudayaan Kepulauan Riau. Secara tersirat dari yang tersurat, tujuan para pengambil inisiatifnya adalah sebagai langkah memelihara semangat meneruskan tradisi Kepri yang baik. Yakni: kegiatan tulis-menulis dan penerbitan. Suatu kiprah budaya yang bermakna penting dan menjangkau jauh itu telah dirintis oleh para pelopor pembina bahasa Indonesia dengan tokoh prominennya Raja Ali Haji di Pulau Penyengat sejak lebih dari seabad yang lalu. Fenomena ini merupakan tonggak sejarah, yang oleh para budayawan Riau kontemporer dinyatakan sebagai Puncak sejarah kesusastraan Melayu (Sutardji CB 1999). Yang akhirnya, 10 November 2004, sang p |