Link: http://16j42.multiply.com

Selagi Mencari Si Rambut Pirang


Kisah Pendek
Oleh : A. Kohar Ibrahim


SORE hari itu, begitu turun dari taksi didampingi dua lelaki yang juga berpakaian preman namun nampak sigap-tegap, Tarpin bergegas melangkah masuk Hotel Pas, naik ke tingkat satu cepat cepat layaknya melompat, menuju Kamar 7. Pintu kamar sudah terbuka , dibukakan oleh manajer hotel, khusus untuknya. Untuk yang kedua kalinya hari itu.

Berbeda dengan kunjungannya yang pertama kali sekitar jam 5 pagi, ketika penghuni Kamar 7 bernama Johan ditemukan pingsan kena pukul babak belur, kali ini Tarpin dan dua orang pendampingnya cepat keluar kembali. Berpesan pada sang manager agar jangan seorangpun memasuki kamar itu tanpa izin yang berwajib, teriring pertanyaan : « Patung garuda di atas mejatulis itu milik penghuni kamar ini, kan ? »

« Iya, Pak, » jawab Iwan sang manajer. « Juga sejumlah VCD di dalam laci meja itu. Semua barang-barangnya masih utuh.»

« Ehm, makasih, » ujar Tarpin sembari senyum kecil mengengar kata-kata terakhir. « Hah, masih utuh ? » tanyanya, tapi hanya dalam hati saja. Dan dia segera turun ke bawah. Di depan pintu keluar, dua orang pendampingnya melanjutkan langkah sigap-tegapnya, sedangkan Tarpin beranjak menuju ruang besar bar dan secara kebetulan meja dan kursi favoritnya yang terletak di pojokan kosong. Ketika seorang pelayan menghampirinya, dia memesan minuman seperti biasanya : « Kopi tubruk. Persediaannya belum habis ? »

« Masih banyak, Pak . Gak usah kuatir, Bos malah sudah beli se-pak lagi. »

« Makasih, makasih. Eh, bilang terimakasih saya pada Bos, yah ? » ujar Tarpin, terduduk, meletakkan kedua sikunya di atas meja dan dengan gerakan seperti orang mengambil air wudhu mengusap muka seraya mengucap : « Astagafirullah… »

Seketika terbayang di kelopak matanya sosok lelaki Eropa yang kekar dan cukup tampan mirip aktor Rambo Stalonne yang di pagi buta tadi cekakaran di dalam Kamar 7 yang dihuninya. Masih segar sekali dalam ingatannya, seminggu lalu, di hari Minggu yang cerah. Disaksikannya sendiri bagaimana lelaki itu begitu riang dan malah menunjukkan kebanggaan masuk hotel itu dengan didampingi dua orang gadis. Gadis gadis yang bukan saja masih muda muda melainkan juga cantik, mengenakan pakaian sporti berambut hitam panjang berkulit putih bersih berwajah cantik seperti mojang Parahiyangan.

« Bukan seperti mojang Parahiyangan, » desisnya, seperti lagi berdialog interaktif dengan kenangannya sendiri. « Gadis-gadis cantik itu memang orang Sunda. » Lantas ingatannya membenarkan, ketika mereka duduk mengitari meja yang hanya selang semeja dari mejanya sendiri, suara mereka berlogat Sunda baik dalam memesan minuman Teh Obeng maupun obrolan sekitar penyanyi kondang Mylene Farmer. « Geulis teuing, Is… » ujar gadis pertama sembari memeperlihatkan CD Dance Remixes yang dikeluarkan dari dalam tasnya, seraya senyum melirik lelaki Eropa yang menatapnya seperti terhipnotis saja. « Nuhun banget, kang Johan. Dank U…» Dan yang tertuju senyum tersipu, senang bilang: “Only for you, Dewi.” Untuknya sorangan? Seketika gadis kedua nyeletuk cemburu: “Et pour moi, mana?” Dijawab kontan oleh sang akang Johan sembari mengeluarkan sebuah CD dari dalam tas warna hitamnya yang cukup besar: “Voilà pour toi, cherie: La Sensualité de Axel Red…” Dan si gadis penerima mendadak beranjak girang layaknya mau melompat menubruk-cium sang pemberi, tapi seketika itu pula dia kembali ingat diri, tengok kanan kiri, lantas hanya senyum menancap pandang seraya mengucap: “Merçi beaucoup, Mijnheer Johan Hendrik! Gue seneng banget, deh.” Dan si lelaki yang ternyata bernama Johan Hendrik itu hanya bilang bernada girang pula: “Pour toi seul, Mirah Isniah çayang. Untukmu saja, yah?” Dan meneruskan dengan menggumamkan nada lagu Sensualité, seraya beranjak mengajak kedua gadis itu keluar dari ruang bar menaiki tingkat pertama masuk ke Kamar 7.

Sekali lagi, seperti seketika itu, Tarpin mengusap mukanya dengan kedua belah tapaktangan seperti lagi mengambil air wudhu. Sekalipun kelopak matanya tertutup, namun mata hati dan pikiran terutama sekali imajinasinya menayangkan berbagai gambaran yang memungkinkan. Segala kemungkinan adegan jika seorang lelaki ganteng memasuki kamar hotel didampingi dua gadis jelita. Apa pula keduanya sekalipun mengenakan pakaian sporti namun cukuplah seksi. Dan apalagi kedua gadis itu nampaknya anggota fans penyanyi kondang internasional yang masing masing bernama Mylene Farmer dan Axel Red.

“Bukan nampaknya nge-fans Mylene dan Axel Red,” bisik hatinya, membantah sekaligus menegaskan daya ingat benaknya. “Keduanya memang fanatik kedua penyanyi senso-romantika itu, yang dalam penampilannya di panggung konser sebagai “lady in red” yang rambut pirang panjangnya beruntai-untai bak nyala api tak ubahnya seperti “birds of fire” alias burung feniks lambang kegairah-abadian.”

Rupanya semua indikasi itu erat berkaitan dengan pesan yang diberikan Mas Syakuran sesaat menjelang keberangkatannya ke mancanegara. Di Bandara Hang Nadim dia bilang dengan nada tenang perlahan: “Pin, cepat pulang. Di dalam kotak surat ada amplop sampul coklat dari Belgia. Isinya sudah aku nikmati. Karena keberangkatanku, aku minta bantuanmu untuk turut mengenal si Belanda ganteng itu.” Memang benar, sesampainya di rumah dia temukan amplop warna coklat. Di dalamnya ada sekian lembar dolar Amerika dan selembar kertas pembungkus coklat made in Belgia: Côte d’Or. “Sialan,” umpatnya saat itu, “sudah dilahapnya semua, hanya ninggalin bungkusannya doang”. Akan tetapi, ada yang amat bermakna tertera di bungkusan itu, berupa indikasi: Antwerpen-Brussel-Paris. Indikasi yang membawanya ke pintu observasi lebih jauh. Antara lain justeru berkenaan dengan si ganteng yang sebenarnya bukan wong Belanda, melainkan orang Belgia berbahasa Belanda alias Vlaams. Johan Hendrik yang berbapak Belgia beribu Perancis itu penggemar musik dan film, pemilik klab-studio Video Universalia dan sering kelayaban di mancanegara menamakan diri sebagai sineas pemburu artis muda berbakat hebat dan khas. “Pemburu artis muda berbakat khas? „ tanyanya sembari mengerutkan kening, menghenyakkan diri di kursi sofa.

Kini, untuk kesekian kalinya, Tarpin mengusap muka dengan keduabelah tapak tangan seperti lagi mengambil air wudhu, menghela nafas panjang seraya mengingat akan obrolan Johan dengan kedua gadis penggemar lagu-lagu penyanyi Mylane Farmer dan Axel Red. Yang masing masing ada kesamaan dan kekhasannya, yang rupanya amat memikat Dewi dan Mirah – pendamping si ganteng Rambo Johan Hendrik itu. Yang paling menonjol adalah penampilan sekaligus lagu-lagu ke-eros-sensual-romantikaan mereka. Dan kedua-duanya berambut pirang bahkan kemerah-merahan menyala gairah. Terutama sekali ketika masing masing membawakan lagu „Beyond my control“ dan „Sensualité“. Akan tetapi, meskipun begitu, masih ada keragu-raguan ketika dari California Mas Syakuran menelponnya, bahwa si Rambo Belgia itu memang sedang memburu calon calon artis untuk berperan sebagai tokoh tokoh film berambut pirang kayak Mylene dan Red. “Tapi saya saksikan sendiri, si Rambo bersama dua gadis memang manis tapi rambutnya hitam legam,” jelasnya dengan nada serius. Tapi dapat balasan dengan nada tawa: “Pin, soal warna rambut itu mah gampang dirobah. Dicelup sebentar aja, dah ganti warna. Coba simak foto ini.” Seketika menyimak foto di layar kaca mini HP itu, Tarpin membelalakkan mata seraya menggelengkan kepala. Lebih-lebih lagi tatkala teriring suara penegasan: “Inilah Dewi dan Mirah itu. Tanpa proses penyeleksian, mereka akan langsung memegang peran dalam film maupun tampil di karaoke Florida, New York dan Texas masing masing sebagai Mylene dan Red. Nyaho?”

Ketika beberapa hari yang lalu Tarpin dikonfirmasi oleh Syakuran mengenai perburuan gadis gadis berambut pirang, dia tegaskan setegas-tegasnya dengan nada seperti lagi bersumpah di depan pengadilan: “Demi Allah, si Rambo sudah beberapa hari ini sering sendirian saja.”

“Great..._” sambut suara HP dari tanah seberang dengan nada girang. Tarpin senyum nyaris tawa kecil terkitik ujar kata Syakuran berbahasa Ingris Amerika. Kok bisa begitu cepat adaptasinya, yah? Tapi belum sempat bertanya, sudah terdengar susulan suara: “Mister Rambo Belgia itu akan segera nyusul dewi dan bidadarinya yang sudah sampai di States.”

“Wah, celaka!” jelas Tarpin sore hari ini, ketika dikonfirmasi sekali lagi oleh Mas Syakuran dari California. “Sang Rambo Johan Hendrik kini masih dirawat berat di Rumah Sakit. Saya khawatir…”

“Aku dah dapat khabar soal ini, Pin. Mungkin sebabnya apakah dia coba-coba menggaet gadis yang kebetulan puteri pejabat setempat, ataukah belum membayar apa yang dijanjikannya pada para pengawal Dewi dan Mirah dari Jawa Barat sana. Para pengawal itu juga jawara yang bisa memperlihatkan kekhasannya. Mereka juga aktor aktor pemegang peran penting. Dan yang terpenting, jaga jangan sampai sang Rambo berpulang... Itu bisa menggagalkan proyek film Eros Eksotikanya nanti.”

“Wah! Kalau soal nyawa, itu mah diluar kesanggupanku!” ujar Tarpin memprotes, tapi tak kesempatan keluar dari tenggorokannya. Tercenung menung sebentar, mencoba memaknai ujar kata Mas Syakuran. Terutama sekali mengenai jenis perfilman yang dimaksudkan, itu tentu saja hanya penyebutan eksentrik dari taktik-trik industri pornografi yang di Amerika sedang marak-maraknya. Akan halnya di sini sendiri? Bukankah juga sudah ada yang ketularan dengan memproduksi film sejenis berjudul “Batam Bara Asmara”. Ah, apa hubungannya dengan sang pemburu gadis berambut pirang yang menyala kemerah-merahan? ***

Catatan:
Kispen : kisah pendek, Cerpen: cerita pendek. Ilustrasi foto penulis A.Kohar Ibrahim di Batam.


2 Comments
romendut wrote on Jun 27
T,Kasih Bang Kohar,,,
16j42 wrote on Jun 28
T,Kasih Bang Kohar,,,
terima kasih kembali
saling berbagi

salam
Add a Comment
   
Kepulauan Riau
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help